SANG PEMIMPI MENGUBAH KEKEJAMAN MENJADI KEBAIKAN
Account illumination
Bagaimanakah orang yang jahat dan kejam itu? Apakah mereka berpenampilan sangar, dengan raut muka yang menyeramkan, badan yang besar atau penuh bekas luka atau tato-tato yang menyeramkan? Apakah mereka persis orang gila yang kotor, berkata-kata kasar dan acapkali bersumpah serapah, suka menggertak orang lain, atau memukuli bahkan merampok dan menyiksa orang-orang? Belum terlalu kejam, karena ada tipe orang-orang yang lebih baik penampilannya, sangat sopan santun, raut wajahnya adalah orang biasa, yang wajahnya ramah, ada yang perawakan badannya sedang, namun di baliknya mereka menyembunyikan pisau belati dalam senyuman (sama seperti pepatah Cina yang merupakan strategi nomor sepuluh dari 36 strategi perang Cina Kuno). Di buku Sang Pemimpi, Andrea jelas menuliskannya di halaman 16, bahwa orang tipe kedua mampu melakukan pembantaian banyak manusia yang tidak bersalah kepada dirinya, seperti tokoh sejarah Alexander Agung dari Makedonia yang melakukannya pada korban-korban perang di daerah-daerah taklukannya, mulai dari Yunani, Mesir, Mesopotamia, Persia, Afghanistan, dan India, Hernando Cortez dari Spanyol yang membantai suku Indian di Amerika, dan boleh saya tambahkan: Adolf Hitler yang mengganyang jutaan orang Yahudi eropa yang terkenal dengan 'holocaust', yang bermitra dengan Benito Mussolini di Italia yang juga membantai bangsanya sendiri dan orang-orang abbesinia (Afrika).
Saya pernah membaca biografi mereka. Masa kanak-kanak mereka menyedihkan, menjalani pendidikan dengan siksaan keji setiap hari dari orangtua (ayah) mereka. Lebih rinci tentang Adolf Hitler, dia selalu disiksa ayah tirinya, seorang Yahudi Eropa, melampaui batas……..
Hitler sebenarnya seorang yang kalem, berjiwa seni, pernah menjadi pelukis, suka akan puisi, terlebih lagi, dia suka anak-anak, dan anak-anak juga menyukainya. Perhatiannya tulus kepada anak-anak, seperti yang pernah saya lihat di film yang menceritakan sebagian riwayat hidupnya dan orang-orang di sekelilingnya yang terlibat di dalam NAZI.
Hitler masih belum bisa mengatasi perasaan tersiksanya, akhirnya menjadi dendam karena dia – selain merasa tidak bersalah kepada ayah tirinya,- dia tidak mampu menyembuhkan luka-luka akibat penyiksaan ayah tirinya di dalam batinnya, membuatnya ketakutan setiap hari. Ketakutan itu tidak mampu dinetralisir, maka Hitler kecil dan remaja adalah pribadi yang sangat menyedihkan, terkurung dalam ketakutannya sendiri.
Setelah dewasa, rasa takutnya masih tinggal di dalam hatinya, namun Hitler menjadi pembicara yang ulung, keras, dan kharismatik. Hitler peduli dengan kondisi bangsanya pada saat itu yang jatuh melarat akibat perang Dunia I, namun sebagian orang-orang Yahudi Eropa dapat hidup makmur, terkesan sombong dan eksklusif. Hitler yang punya kenangan buruk dan dendam kepada ayah tiri Yahudinya beraksi menentang keberadaan orang-orang Yahudi itu, memprovokasi bangsanya sendiri untuk membenci dan melenyapkan semua orang Yahudi dari Jerman, bahkan dari seluruh muka bumi ini.
Jelas, bahwa rasa takut Hitler akibat siksaan ayah tiri Yahudinya menjadi sumber segala kemarahan dan kejahatannya, dari sanalah ide kekerasan dan segala aksinya terhadap orang Yahudi timbul dan dijalankan oleh rezimnya (sesuai dengan pemikiran Anthony de Mello yang menyatakan bahwa Rasa Takut Akar dari Kekerasan).
Nah, bisa ditarik kesimpulan bahwa semua orang kejam itu sebenarnya adalah orang-orang biasa, yang disebabkan tidak bisa menerima perubahan dalam hidup yang menyakitkan hatinya, dan tidak sanggup mengatasi penderitaan yang dirasakan akibat sakit hatinya itu, berusaha mencari obyek pelampiasan dan melampiaskannya demi meredakan rasa sakit hatinya itu.
Besar kecilnya sakit hati yang dirasakan seseorang dapat diimbangi dengan kedalaman pemahaman orang itu yang utuh tentang kehidupan, dia menerima segala sesuatu yang terjadi dengan apa adanya, dan mampu bertindak tepat sesuai kondisi karena kepekaannya terhadap perubahan yang dialaminya.
Cerita-cerita di Sang Pemimpi bisamenjadi contoh nyata fenomena tersebut, seperti cerita tokoh antagonis Pak Mustar, wakasek SMAN Bukan Main. Dia semula adalah orang yang baik dan berjasa merintis berdirinya SMAN itu di Magai, sehingga Ikal cs tidak perlu jauh-jauh pergi ke Tanjong Pandan untuk melanjutkan SMAnya. Namun, karena putra manja kesayangannya tidak diterima di SMAN itu lantaran NEMnya kurang dari syarat minimal, dia berubah menjadi guru galak bagi murid-murid barnya (SP hal.6-10). Tapi Pak Mustar bukan guru paranoid yang suka marah-marah saja, dia adalah pendidik yang efektif untuk memacu semangat belajar murid-muridnya demi kehormatan orangtua atau wali murid mereka (SP hal.91-93), selain menjadi penegak disiplin di sekolah (SP hal.10), dan menjadi pelindung moralitas murid-muridnya dari pengaruh yang buruk (SP hal.96, 101-102,112-114, 116, 118-119), dan kadang mempunyai cara yang sangat lucu dan kreatif tanpa unsure kekerasan untuk menghukum mental murid-murid pelanggar kebijakannya (SP hal.119-125). Galaknya pak Mustar bukan berarti dia guru killer yang tidak meluluskan murid-muridnya, dia cukup bijak untuk memaafkan kenakalan murid-muridnya yang memalukan (SP hal.10-22, 115-116), mengubah hukuman dikeluarkan dari sekolah menjadi hukuman mental karena Ikal cs sudah kelas tiga, Ikal dan Arai sendiri adalah murid avant garde (SP hal.118-119), dan sangat menyayangi mereka seperti anaknya sendiri (SP hal.147-149). Di halaman 148 nampak perubahan pribadi pak Mustar yang berhasil mengatasi kekecewaannya, bahkan sangat mempedulikan Ikal yang ngedrop prestasinya akibat mindset negatif, maka dia berhasil mengalahkan egonya sendiri, dan ikut menyemangati Ikal dan Arai berlayar ke Jawa untuk menuntut ilmu (SP hal.219-220).
Taikong Hamim menerapkan pendidikan agama yang ketat pada Ikal cs di masa kanak-kanaknya dengan kaku tanpa perasaan (sp hal.58-59,64). Dia selalu menghukum fisik anak-anak hanya karena tidak mejalankan ibadah dengan benar (SP hal. 59-60, 64). Kekejaman Taikong Hamim sangat menyakitkan hati, Ikal dan Arai berusaha membalaskan sakit hatinya, salah satunya dengan mempermalukan si Taikong ini saat shalat berjamaah (sp hal.64-65).
Reputasi kekejaman Taikong Hamim dibahas singkat di Sang Pemimpi,- dan saya leih kaget lagi saat membaca Endensor,- bahwa Taikong menghakimi mayat orang yang bunuh diri karena depresi dan frustasi akan nasibnya untuk tidak dimakamkan secara layak sebagai muslim, dianggap penista agama (E. hal 2, 12). Bagi saya, ini adalah tindakan tak berperikemausiaan, di samping itu keputusannya mengingkari pernyataan dari agama Islam yang universal: Semua manusia sam derajatnya di hadapan Allah. Di Endensor saya juga mengikuti sepak terjang kenakalan Ikal dari debutnya bersama adik ungsunya mengacaukan ibadah di masjid dengan menyemunyikan naskah khotbah khatib saat akan ceramah, menaruh terompah Wak Haji di langit-langit, menabuh beduk sembarangan, mengacau di jemaah putri dengan samaran mukena, membidik jendela masjid dengan mercon bumbung waktu jamaah shalat tarawih (E. hal 18), pemimpin penjarahan tambul, menghasut adiknya untuk menyanyi lagu "Indonesia Raya" dengan pengeras suara masjid, dan melumuri kopiah Wak Tarjik dengan minyak rem (E hal.22-23).
Saya pikir, Ikal cs berbuat kenakalan di masjid hanya untuk membalas penindasan Taikong Hamim dan oknum Trias Politika punggawa masjid lainnya (SP hal.58-59) yang lebih kejam daripada orangtua mereka sendiri, dan itu lebih baik daripada kelak tumbuh menjadi kaum fanatik yang sangat pemberang, ekstrimis, dan akhirnya jadi teroris yang bengis dengan sesamanya sendiri. Pembalasan dendam akibat perlakuan keras dan didikan keras puritan, ditambah lagi kepicikan yang tidak toleran dari cara penyampaian yang salah dari pemahaman yang salah tentang kebenaran telah menghasilkan benih-benih angkara murka berlabelkan kesucian yang membuat orang-orang semakin takut di seluruh dunia, dan tentu itu bukanlah cita-cita orangtuanya ketika melahirkan dan mendidiknya dengan kasih sayang yang lembut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar