Rabu, 17 Desember 2008

REALITAS MINDSET DI LASKAR PELANGI


 


 

Mindset yang menurut Adi W Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset –kepercayaan- sangat dominan menentukan perjalanan hidup manusia menuju masa depannya.(TSM hal.4-15) Di Laskar Pelangi mindset para tokohnya sangat menentukan masa depannya, bukan dengan segala keterbatasan yang dialami.

Para guru Laskar Pelangi memiliki mindset kuat dalam menjalankan tugasnya, sehingga sekolah Muhammadiyah -yang minim fasilitas & pendanaannya, bahkan hampir ditutup (LP hal.4) karena kekurangan murid,- tetap eksis & berprestasi. Pak Harfan bisa menempatkan dirinya bukan sebagai pendidik Islami saja, dia bersahabat dengan semua muridnya (LP hal.23-24) yang tidak semuanya muslim & tidak semuanya ber-IQ normal, menghibur mereka,& kreatif menangani masalah mereka,& menjadi motivator efektif dengan menanamkan kepercayaan yang universal akan keteguhan diri, ketekunan, & keinginan kuat untuk sukses mencapai cita-cita, & kepercayaan untuk hidup dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan dengan menerima sebanyak-banyaknya kepada murid-muridnya sejak dini.(LP hal.24-25) Kepercayaan ini yang mendominasi pikiran Pak Harfan sendiri untuk tetap melangsungkan sekolah walaupun dia juga siap menutup sekolah jika kekurangan murid.(LP hal.21,5) Bu Mus bermindset kemanusiaan secara luas mendidik semua muridnya dalam budi pekerti dengan memahaminya dengan kesadaran pribadi, bukan dengan indoktrinasi & gaya otoriter yang kolot.(LP hal.30-31) Dia juga menanamkan pengertian yang tepat & mengena pada semua muridnya tanpa banyak kata,& terjadi kesadaran dalam diri mereka seperti belajar tanpa mempedulikan kondisi kelas yang bocor waktu hujan,& terus sekolah dengan antusias,(LP hal.31-32) & memberi kesempatan murid-muridnya untuk menemukan dirinya sendiri, mengembangkan kepribadian & talentanya dengan baik sehingga bermanfaat bagi dirinya & sekolahnya sampai di masa depan.(LP hal.110-111,121-122,124,135-138,143-135,146,152,153-154)

Ada dua orang murid brillian & berbakat seperti Lintang & Mahar ternyata di masa depannya, terutama Lintang - tidak hidup sesuai dengan cita-cita & kecerdasan yang dimilikinya, mendapatkan bayaran yang pas-pasan di kelas pekerja.(LP hal.467-470,477) Dua orang murid lainnya kurang pintar secara akademis & tidak berbakat seperti Kucai & Syahdan justru meraih kemapanan finansial dalam kepemimpinan di bidangnya masing-masing.(LP hal.479,490)

Lintang berintuisi bagus di matematika, sains, teknologi, filsafat, agama, bahasa asing, terbukti dengan prestasinya di sekolah & kemenangan telak grupnya mewakili sekolah Muhammadiyah di cerdas cermat. Mahar berintuisi bagus di semua bidang seni & entertainment, terbukti dengan karya seninya di sekolah & kemenangan sekolahnya di lomba karnaval 17-an.

Dengan menghargai dan menghormati kekaguman dan penghargaan Ikal terhadap Lintang dan Mahar, saya melihat kedua orang ini kehilangan mindsetnya, dengan kondisi yang saya kutip:

"Mereka adalah dua orang genius yang kemampuannya dinisbikan secara paksa oleh tuntutan tanggung jawab pada keluarga." (LP hal.476)

Kita memang berat meninggalkan keluarga manakala kondisi orangtua kita single parent, saya juga mengalaminya. Namun alangkah bodohnya saya, karena saya menyerah begitu saja dengan kondisi ini, sebenarnya kan saya bisa mendelegasikan tanggung jawab saya kepada saudara-saudara kandung saya atau sanak famili, atau kepada orang lain yang bisa dipercaya untuk mengurus orangtua saya, dan saya mengupayakan dana yang cukup untuk perawatan orangtua dan kebutuhan si perawat/yang mengurus orangtua saya, dan saya bisa meninggalkan rumah jauh-jauh demi mengejar impian saya (jika ada, tapi memang dasar saya masih lagi kepingin di rumah terus sekarang he he he). Itu sudah dibuktikan di zaman dulu oleh seorang master Zen, Kuan Ching yang hidup dengan ibunya yang tua dan menjanda. Demi tuntutan ilmu Kuan Ching harus pergi mengembara dan meninggalkan ibunya sendirian. Maka Kuan Ching bekerja keras mendapatkan dana yang bisa mencukupi biaya perawatan ibunya dan orang yang merawatnya, dan dana itu dipercayakannya kepada orang yang baik dan jujur untuk merawat ibunya. Kuan Ching akhirnya pergi mengembara, menjalankan kehidupan pertapaannya yang ketat dan mencapai pencerahan. Ibu Kuan Ching dirawat oleh orang itu dengan baik karena dananya cukup melimpah, bahkan ketika ibunya wafat, dananya masih bisa menyokong kehidupan si perawat tadi dengan keluarganya sampai akhir hayatnya.

Ikal mengungkapkan bahwa pribadi yang cerdas mengalami konflik diri karena ketidakpuasan akan hasil ciptaannya yang menurutnya masih belum sempurna. Bahkan kecerdasan menjadi bumerang manakala ia mampu memahami obyek lebih mendalam melampaui ketidaktahuan teman-temannya, yang pikirannya biasa-biasa saja tidak mampu menerima pemahamannya. Akhirnya orang-orang ini sulit berteman dengan orang-orang biasa, karena mereka dianggap aneh & sukar dipahami.(LP hal.112) Mereka bisa sukses & merealisasikan impiannya jika bertemu orang-orang yang tepat & bisa memahaminya (LP hal.472-473), namun mereka bisa gagal kalau terlalu idealis & tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri.(LP hal.475-476,189-190)

Kucai tidak pandai dalam pelajarannya, lemah dalam penglihatannya, tapi optimismenya tinggi, pandai bicara & bergaul dengan siapa saja sehingga networknya luas (LP hal.69-70), cita-citanya jadi anggota dewan.(LP hal.342-343) Syahdan tidak terampil secara teknis, dia banyak mengerjakan hal-hal yang tidak disukai dalam kelompoknya(LP hal.477-478) & ia tidak minder, tapi kemauannya kuat untuk menjadi aktor & semangat juangnya tinggi meskipun teman-temannya menghinanya.(LP hal.343)

Mereka bisa sukses sesuai impian mereka. Yang unik Syahdan, karena di perjalanan karirnya sebagai pemain figuran dengan bayaran minim, dia mau mencoba hal baru mempelajari komputer, akhirnya dia jadi ahli programmer & membawahi ratusan karyawan. Syahdan tetap saja bercita-cita menjadi aktor.(LP hal.478-479)

Ikal juga mengalami keunikan di perjalanan hidupnya. Masa kecilnya dia melihat dari sela-sela kaki orang dewasa kesedihan dari Bodenga di tengah kerumunan orang di lapangan menghadapi buaya – yang dianggap penjelmaan ayahnya – ditangkap dan dibelah perutnya. Rasa duka mendalam Bodenga dipahaminya mendalam, masuk ke alam bawah sadarnya, menjadi kode akan timbulnya kesedihan (LP hal.92-93), bekerja otomatis saat akan mengalami senjakala dalam cinta pertamanya (LP hal.281-282). Kehidupan cintanya yang berbunga-bunga dengan A Ling harus berhenti,& dia sempat sedih & kecewa. Namun dia ingin sementara mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku cerita hadiah perpisahan kekasihnya. Untunglah dia sebelumnya telah memiliki mean value (TSM hal.93) tentang keindahan alam seperti pelangi yang mengagumkan hatinya (LP hal.159-160), pemandangan pantai atau gunung yang menakjubkan hatinya (LP hal.179-181,285-291), keindahan flora & fauna (LP hal.32-33,157-159,288-289) dengan imajinasi yang hidup menyambungkannya dengan isi buku itu tentang petualangan Herriot di desa indah Endensor. Akhirnya pengalihan perhatian menjadi permanen,& cinta kepada A Ling beralih pada isi buku tersebut.(LP hal.332-335)

Selanjutnya Ikal mulai merencanakan masa depan. Dia berusaha mengenali minat & bakatnya, serta berusaha menjadikannya cita-cita. Dia lumayan pintar,lincah,& berbakat dalam olahraga bulutangkis bercita-cita jadi pemain bulutangkis atau penulis,& menghindari pekerjaan di kantor pos,berusaha melaksanakannya, akhirnya menjadi tukang sortir di kantor pos. Pendeklarasian cita-cita secara negatif justru menguatkan tercapainya cita-cita itu. Dia terjebak dengan MAV atau moving away value, yang menurut Adi W Gunawan ialah nilai yang tidak ingin kita alami dalam hidup, konkritnya adalah situasi kondisi emosi yang akan kita hindari dengan cara apapun (TSM hal.94), termasuk dengan cara religius seperti doa Ikal: "Ya Allah, cita-citaku adalah menjadi seorang penulis atau pemain bulutangkis, tapi jika gagal jadikan aku apa saja kalau besar nanti, asal jangan jadikan aku pegawai pos. Dan jangan beri aku pekerjaan sejak subuh." (LP hal.278) Nah, selanjutnya Ikal termotivasi dengan MAVnya itu,(TSM hal.95) bukannya berfokus pada cita-citanya, ia malah memberi makan MAV secara tidak sadar dengan menghindari pekerjaan pegawai pos yang mulai sejak subuh itu dengan tegas & berulang-ulang.(LP hal.342,441) Akhirnya, ia gagal mencapai semua cita-citanya,& kondisi kesulitan ekonomi keluarga kakak kandung yang ditumpanginya mengharuskan bekerja di kantor pos sejak subuh.(LP hal.442-443)

Namun, Ikal tidak sepenuhnya terbenam dalam kondisinya yang terpuruk. Dia punya end value atau nilai akhir (TSM hal.94) yang bertujuan cita-cita kesuksesan yang berarti terlaksananya amanah dari guru-gurunya,teman-teman,& kekasihnya.(LP hal. 460) Sinergisnya, Ikal sudah ditanami guru-gurunya kepercayaan-kepercayaan yang baik itu sejak SD, ditambah dengan imajinasi tentang desa Endensor (LP hal.458) yang indah muncul dari mean value nya, buku cerita kesayangannya itu (TSM hal.93,101), Seandainya Mereka Bisa Bicara karya Herriot. Peluang untuk beasiswa ke luar negeri dimanfaatkannya, cara belajar unik yang didapat dari Lintang diterapkannya dalam kondisi jeleknya (LP hal.458-459), dia langsung mengikuti tes masuknya dengan antusias, hingga lolos & diterima.

Ikal ini low profile sekali, jauh dari kesan genius, namun betapa kagetnya saya melihat biografinya di cover belakang (sampul bagian dalam) buku ini. Namun saya tetap menilai Ikal bukan seorang genius, namun dia mempunyai tekad, kehendak, dan nasib yang baik, terutama dengan mindsetnya yang benar untuk mencapai cita-cita.


 

Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget