Kamis, 11 Desember 2008

SANG PEMIMPI DAN MASA MUDA


 


 

Account    illumination


 

Masa muda adalah masa kita mengkondisikan apa yang kita impikan bisa terjadi atau tidak. Kekuatan mimpi yang dimotori dari dorongan atau motivasi yang baik adalah sangat kuat, di Sang Pemimpi saya melihatnya sebagai perjuangan yang layak dilakukan dalam kondisi fisik, pikiran, dan mental kita sejak muda.

Saya sangat respek dengan Arai, kakak sepupu Ikal, yang berinisiatif untuk bertanggung jawab pada hidupnya sendiri, saudaranya, dan keluarganya, dan memotivasi Ikal untuk mengikuti jejaknya tersebut. Dengan deita yang menurut saya sangat sulit diterima pada masa kecilnya (SP hal.24-26) Arai tumbuh sangat kuat dan tegar, tidak terjebak dalam kesedihan (SP hal.26-30). Bahkan, ia berhasil menumbuhkan sifat kepemimpinan mendasar, yakni melayani dengan sepenuh hati, melindungi, dan menguatkan saudaranya (SP hal.31-32, 34-35).

Arai memang sadar finansial, dia mengerti bahwa untuk mencukupi keutuhannya sendiri tak mungkin terus-terusan bergantung dengan keluarga Ikal. Dia mengajak Ikal mencari uang dengan mencari akar banar untuk dijual kepada penjual ikan, lalu mengambil akar purun di rawa-rawa untuk dijual pada pedagang kelontong (SP hal.32), penyelam danau buatan di padang golf, part time office boy di kantor pemerintah, dan akhirnya jadi kuli ngambat di dermaga untuk membantu nelayan memikul hasil tangkapannya dari dermaga hingga stan pasar ikan, dan juga pernah bekerja di restoran mi rebus, menjadi kernet, dan pedagang buah kweni (SP hal. 68-70, 142-143).

Mereka sangat ulet dan gigih bekerja keras selain untuk menyokong keluarganya, juga demi membiayai pendidikannya (SP hal.4, 52, 67-68), dan secara kreatif Arai bisa membantu bibinya yang lebih miskin dari mereka untuk berjualan kue basah dengan modal tabungannya sendiri digabung dengan milik Ikal (SP hal.40-52). Berarti mereka sudah melepas kebobrokan adat mereka sendiri yang pernah diulas di Laskar Pelangi, yakni pola hidup konsumtif dan pemborosan yang akan memiskinkan mereka. Mereka juga sangat ijaksana memanfaatkan masa mudanya dengan baik, mengisi waktunya dengan belajar dan bekerja, tentu demi cita-citanya yang tinggi.

Mereka adalah remaja yang normal, mengalami masa-masa puber, tentu mengalami ketertarikan dengan fisik lawan jenis (SP hal.97-101). Keingintahuan mereka untuk nonton bioskop melihat film komedi Indonesia dengan bumbu "yang menggairahkan" (SP hal.106-111) adalah wajar, apalagi mereka saat itu sudah berumur hampir delapan belas tahun, dan film-film kategori itu di Indonesia biasanya diberi keterangan "untuk 17 th ke atas" demi membatasi usia penontonnya. Sebenarnya, jika mereka diberi pendidikan seksual yang benar, mereka tidak akan terlalu bermasalah seperti itu (SP hal.97-103). Larangan yang keras dari pihak sekolah (SP hal.96, 101-102) tidak efektif, karena mereka pada zaman itu belum diberi wawasan yang benar dan nyata, bahwa seks adalah bagian dari hidup mereka yang penting, mempunyai fungsinya sendiri, dan bisa dilaksanakan ika mereka menyadari fungsinya dan kondisi yang tepat dalam hidup mereka. Hendaknya murid-murid sekolah dididik untuk menyadari dorongan seks yang terjadi, mengendalikannya, dan para pendidik wajib member wawasan kepada urid-muridnya tentang bahaya jika tidak mengendalikan dorongan seks itu. Nah, dengan bijaksana para pendidik sebaiknya menegaskan bahwa larangan atau himbauan untuk menghindari tontonan-tontonan yang merangsang dorongan seks atau memperbesar dorongan seks itu demi keselamatan mereka sendiri dari bahaya-bahayanya, seperti kehamilan di luar nikah, pemerkosaan pada perempuan dan traumanya, penyakit kelamin, hepatitis, AIDS, perzinahan atau perselingkuhan yang menyebabkan derita bagi yang melakukannya, - seperti dikucilkan dari lingkungannya, gangguan mental dan gangguan fisik yang kelelahan akibat sering melakukan aktivitas seksual yang terlarang, dan lain sebagainya secara etika moral dan religius. Upaya yang sebaiknya diajarkan oleh para pendidik kepada murid-muridnya bukan pengekangan atau menahan hawa nafsu seksual, melainkan pengendalian yang alami dan kreatif yang mengalihkan energi dorongan seksual itu ke bidang-bidang lain yang berguna, seperti olahraga, seni, pelatihan kerja, pencinta alam, pelestarian lingkungan, tulis menulis, teknologi, komputer, dan lain-lain yang tentunya cocok bagi murid-muridnya. Para pendidik sebaiknya juga memeri wawasan tentang kehidupan rumah tangga yang nyata, yang tidak hanya sebagai penyaluran dorongan seks semata-mata, namun juga konsekuensi tanggung jawab kasih, moral, sosial, finansial, dan ekonomi yang mutlak diterima murid-muridnya kelak jika mereka memutuskan untuk hidup berumah tangga, jadi murid-murid bisa memanfaatkan masa mudanya dengan baik, minimal mereka mampu membuat perencanaan yang baik termasuk perencanaan finansial dan melaksanakannya, agar tidak terjadi lagi keluarga-keluarga miskin baru, anak-anak miskin di jalanan, gelandangan, kriminalitas, kerusuhan sosial, kerusakan lingkungan alam, dan wabah penyakit.

Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget