Jumat, 14 November 2008

LASKAR PELANGI DAN SPIRITUALITAS


 


 

Spiritualitas adalah 'bangun', terjaga, menurut Anthony de Mello (AWARENESS). Dalam Laskar Pelangi saya banyak menemukan gambaran, kejadian, aknedot-aknedot, puisi yang membuat kita tidak hanya tertawa & terharu, namun tergerak untuk lebih sadar akan segala kebodohan atau kesalahpahaman yang sering kita buat karena kita terjebak dalam ketidaksadaran.

Pengecualian dari sistem

Anak yang terbelakang mentalnya bersekolah di sekolah umum untuk anak normal. Harun mulai disekolahkan ibunya di SD Muhammadiyah pada umur 15 tahun karena SLB di Belitong tidak ada & ibunya tidak mampu membiayainya. Kepala sekolah SD pak Harfan dan salah satu gurunya, bu Mus, menerimanya saja untuk menyelamatkan sekolahnya dari penutupan akibat kekurangan murid (LP hal.4-7).

Selanjutnya, sekolah memperlakukan Harun seperti murid sekolah yang normal, dia mengikuti semua mata pelajaran di kelas (LP hal.77) dengan teman-temannya, tetap naik kelas meskipun tak punya rapor (LP hal.78). Fenomena Harun merupakan kepribadian anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa (LP hal.78). Harun disenangi teman-teman sekolahnya, karena dia santun, murah senyum, dan rapi penampilannya (LP hal.76-77). Teman-teman sekolahnya sadar akan kondisi Harun, tetapi tidak pernah menghina atau meninggalkannya, malah mereka mengajaknya dalam kegiatannya (LP hal.77,147,148,228,324,372,384,396,427), jika bermasalah dengan Harun, mereka bisa mengatasinya dengan sabar & kreatif, seperti membujuk Harun untuk tidak main drum lagi dan jadi tukang pikul drum dengan sogokan permen asam jawa hampir setengah kilo selama berhari-hari. (LP hal.147-148)

Para guru sekolah Muhammadiyah & anak-anak Laskar Pelangi bersikap & bertindak sesuai realitas, mereka tidak bereaksi dengan prasangka negatif seperti orang-orang lain pada umumnya yang tidak menghargai dan tidak peduli dengan orang-orang yang mentalnya terbelakang. Mereka menerima Harun apa adanya & merespon dia sesuai dengan kondisi yang dialaminya, bukan dengan mengucilkannya seperti realitas di masyarakat saat ini. Saya terharu, anak-anak Laskar Pelangi menghormati Harun dengan menyapa "Abangda Harun" (LP hal.148) karena dia tertua di antara mereka (LP hal.7). Gurunya, bu Mus memanggilnya dengan kasih "Anakku" & selalu menjawab Harun yang menanyakan libur Lebaran berulang kali dengan kesabaran (LP hal.77)

Sekolah Puritan

Sekolah Muhammadiyah (SD &SMPnya) adalah sekolah yang menjaga ketat nilai-nilai Islam (LP hal.4,68,401), pendidikannya bersumber dari agama Islam (LP hal.19-22,30-32,70-71,73-74,82,88,110-111,124,146,350-352,487), kepala sekolahnya, pak Harfan melaksanakan kewajibannya bermotifkan syiar Islam (LP hal.21,488), menghasilkan murid-murid yang memiliki pemikiran kritis, dinamis, dan maju melampaui ke-"Islam"-annya. Mereka bersikap & bertindak nyata sesuai dengan pemahamannya, tidak membatasi diri untuk bereksplorasi & berani mengambil resiko demi tujuan yang dicapai. Komentar-komentar, aksi-aksi & kenakalan yang dibuat mereka mencerminkan sikap & tindakan mereka yang peka dengan lingkungannya.

Tuhan akan menyelamatkan mereka yang menyelamatkan dirinya sendiri

"Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang perahu nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang.

"Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…" demikian ceritanya dengan penuh penghayatan.

"Namun, kesombongan membutakan mata & menulikan telinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak…"

Sebuah kisah yang mengesankan. Pelajaran moral pertama bagiku: jika tak rajin shalat maka pandai-pandailah berenang." (LP hal.22)

Saya menyimpulkan jika ritual atau ibadah tidak kita jalankan dengan sempurna, maka kita sebaiknya mengantisipasi akibatnya seperti musibah bencana alam dengan upaya penyelamatan diri yang tepat dengan situasi dan kondisinya.

Anti opportunis

Lintang beropini unik manakala menghadapi pertentangan kebenaran asal-usul manusia (LP hal.121). Dia tidak membenarkan salah satu pandangan, teori evolusi Darwin atau kebenaran religius (kitab suci Alqur'an),dia mengungkapkan realita kemunafikan khususnya pada pengikut pandangan religius yang 'tertidur',mengikuti hal-hal yang menguntungkan dirinya. Saya menghargai toleransinya terhadap mereka yang meyakini teori evolusi & tidak setuju dengan kebenaran religius, sebab tidak semua orang berpandangan sama tentang satu obyek, ini bergantung dari pribadinya & kepentingan yang melandasi cara pandangnya terhadap obyek tersebut.

Opini Lintang ini sebaiknya diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari demi peningkatan kesadaran tiap pribadi. Tiap orang sebaiknya memahami dirinya sebelum dia beropini atau bertindak terhadap opini atau tindakan orang lain. Tegasnya, dia wajib memahami dirinya sendiri, apakah dia benar-benar hidup dengan sadar atau masih berilusi tentang hidupnya? Meskipun opini Lintang didasarkan dengan konteks Islam, pesan yang bisa kita pahami adalah kesadaran kita akan komitmen yang sudah kita buat dalam hidup kita. Kesadaran ini yang membuat kita tidak sekedar 'beradaptasi' menelan mentah-mentah konsep yang berlaku demi keuntungan sesaat, melainkan bertindak tepat ketika menghadapinya.

A Real Heaven

Puisi yang dibuat Ikal,-Aku Bermimpi Melihat Surga-(LP hal.181-182) lebih realistis daripada gambaran surga tingkat rendah yang dituliskan di kitab-kitab suci yang penuh dengan fantasi keindahan & kenikmatan dunia orang dewasa. Meskipun puisi ini 100% khayalan, surga yang dimaksud bisa benar-benar diwujudkan kalau kita mau menikmati keindahan panorama alam sore menjelang senja di tengah-tengah sawah, pegunungan, pantai, atau perkebunan dalam suasana hening. Di saat sendiri kita mendekatkan diri pada alam, merasakan dengan nyata persatuan dengan alam semesta, ego melebur, ketergantungan emosi dengan harta benda, keluarga, orang-orang sementara dilepaskan bersama-sama dengan emosi negatif yang kita kumpulkan di saat-saat susah atau menyedihkan, juga pikiran-pikiran & konsep-konsep palsu yang tidak nyata yang membuat kita menjadi badut, robot, atau monyet yang kacau balau dalam rutinitas kehidupan, rasanya melegakan seperti habis buang angin atau buang air besar habis-habisan.

Kehadiran seorang wanita yang menunjukkan surga memberi kita inspirasi baru dalam spiritualitas kita. Kebanyakan agama-agama besar Timur Tengah cenderung mencitrakan sosok maskulin, malaikat-malaikat sakti & berwujud fantastis seperti di negeri dongeng, dan kita menerima indoktrinasi itu tiap hari lewat media massa & tak berhasil mengubah kepribadian bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Sekarang di media massa, berita-berita tentang insiden kekerasan, kebengisan, & perilaku para pemberang sudah jadi makanan sehari-hari bagi yang berminat tentunya. Wanita ini tiada gambaran terperinci, si Ikal menyiratkan bahwa kita sebaiknya menyadari sisi lembut kita yang kadang-kadang kita tindas habis karena ketakutan yang defensif terhadap sesama, akibat prasangka-prasangka yang ditimbulkan dari cara pandang keliru melihat diri kita sendiri, keluarga, teman-teman, kenalan-kenalan, para pimpinan atau bawahan dalam struktur organisasi yang kita ikuti, orang-orang yang tidak sepaham dengan kita, menurut perasaan-perasaan buta kita. Pemahaman yang jernih dengan kelembutan alami seorang wanita yang tulus menolong kita lepas dari kekerasan & kekakuan diri kita. Citra wanita bisa juga berarti "otak kanan", kemampuan kita berimajinasi mengikuti suara hati kita yang terdalam. Prosesnya tidak bisa dijelaskan, tiap pribadi berbeda-beda, & hanya bisa dialami sendiri. Apa yang menjadi tujuan atau maksud hati kita, -surga kita- bisa dicapai secara intuitif.

Istana surga dilukiskan penuh kamar sunyi bertingkat yang penuh dahan pohon ara. Kesan keteduhan yang hening & banyaknya alternatif tempat kita bisa tinggali sendiri & bisa berpindah-pindah, tak soal di mana saja kita bisa menghuni. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan rasa nyaman karena keteduhan kondisi pemikiran kita yang sunyi, bebas dari ocehan batin kita sendiri tentang keakuan kita & ketergantungannya akan segala hal. Gelas-gelas kristal berdenting adalah hati nurani kita yang suci yang dialiri air zamzam, maksudnya dialiri cinta kasih yang menyejukkan & menyembuhkan pribadi kita yang sakit akibat penderitaan yang kita alami.

Jendela yang penuh keindahan natural bunga petunia di kusen-kusennya, mengajak kita untuk memandang segala sesuatu dengan keindahan alami. Beranda yang terang tapi tak menyilaukan, sinarnya memancarkan kedamaian pencerahan yang membuka gelapnya rerimbunan perdu di halaman, yaitu yang menghalangi cerahnya batin, seperti nafsu, kebencian, & kebodohan yang tidak sadar tumbuh subur di dalam diri & menutupi hati nurani kita.

Surga memang sepi, karena pencapaian "surga" terjadi secara personal, bukan secara kolektif. Keadaan hening yang bisa dicapai dengan relaksasi & meditasi untuk menenangkan pikiran memang membuat kita betah & nyaman, yang dimaksud bukan pada saat pikiran dikonsentrasikan dalam keheningan, tapi keheningan itu timbul dengan sendirinya dalam diri kita & membawa rasa nyaman & damai. Cerita Tuhan yang berjanji menjemput kita berlari-lari kalau kita datang berjalan, menyimbolkan perjalanan hidup kita yang tepat menuju Tuhan. Saya tersentuh dengan gambaran Tuhan yang sangat manusiawi, tidak dibelenggu dengan paham ekstrim seharusnya Tuhan diagungkan tanpa gambaran seperti keyakinan radikal sebagian orang-orang Muslim secara syariat & tarikat yang patuh pada ajaran & takut dilaknat Allah karena pelanggaran aturan. Gambaran Tuhan versi Ikal senada dengan para sufi moderat yang berusaha memahami hakikat hidup ini, & dapat mencapai makrifat atau kesempurnaannya. Gambaran sufi yang mencintai Tuhan/Allah seperti dia & kekasihnya, mencerminkan kelembutan hati manusia namun berani menyatakan kebenaran, tidak terikat lagi dengan kondisi fisik, emosi, keduniawian, & tentu saja penuh kasih tanpa membeda-bedakan & memecah belah baik pada dirinya sendiri, sesamanya, & alam semesta. Ikal menggambarkan janji dengan Tuhan juga seperti janji dengan sahabatnya yang rindu setelah sekian lama tak bertemu hingga berlari-lari menjemputnya, sesuai dengan jiwanya yang penuh persahabatan tulus dengan teman-temannya, kelompok Laskar Pelangi. Saya menangkap sisi religiusnya yang manusiawi & universal seperti di Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, Tao, & aliran kebatinan lainnya. Inilah yang sebaiknya menjadi sumber inspirasi alternatif demi perkembangan diri kita secara kuantum yang melampaui batas-batas kaku & mengekang seperti katak dalam tempurung yang mungkin kita rasakan akibat kurangnya wawasan & pemahaman kita & pengkondisian parah yang menumpulkan hati nurani kita selama ini.


 

Power tends to corrupt

"Hari ini kami mendapat pelajaran penting tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak efektif untuk suksesi jabatan kering." (LP hal.73)

Ini komentar Ikal pada saat pemungutan suara untuk ketua kelas baru. Kucai yang bertahun-tahun menjabat mau meletakkan jabatannya karena merasa terbebani tanggung jawabnya untuk mengingatkan anggota kelas agar tidak berisik (padahal dia sendiri tidak bisa diam) dan tak ada keuntungan nyata yang didapat. Ternyata semua anggota kelas tidak mau menggantikannya (kelas mereka terkenal susah dikendalikan). (LP hal.70-73)

Fenomena ini tidak hanya terjadi di sekolah anak-anak itu, di lingkungan masyarakat, dunia politik, bisnis, atau keagamaan, orang-orang cenderung melakukan hal yang sama, jika tidak ada untung yang dapat diperoleh, mereka tidak mau menerima suatu jabatan tertentu. Sebaliknya, prinsip-prinsipnya efektif untuk suksesi jabatan yang tidak kering alias basah, karena ada keuntungan nyata yang diperoleh, bersifat finansial, kepopuleran, pengaruh atau kekuasaan, fasilitas, pengakuan & kehormatan akan status tertentu, dan lain-lain.

Nah, ternyata fenomena miring seperti ini tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari pembentukan jabatan-jabatan tertentu tersebut oleh masyarakat atau organisasinya, demi kelangsungan hidup yang teratur dari masyarakat atau organisasi tersebut, mau diarahkan ke mana mereka, untuk mencapai atau menjadi apa selanjutnya.

Jadi, mereka tidak berfungsi menurut jabatannya, kebanyakan dari para oportunis atau pendekar jurus aji mumpung itu lebih mengambil untung dari jabatannya secara tidak benar, ini yang dikecam bu Mus (LP hal.70-71).

Demonstrasi

"Di sisi lain kami juga jengkel pada Trapani karena setiap kami punya "acara", misalnya menyangkutkan sepeda Pak Fahimi –guru kelas empat yang tak bermutu dan selalu menggertak murid- di dahan pohon gayam, Trapani harus minta izin pada ibunya."(LP hal.75)

"Sementara itu Syahdan, aku, dan Kucai sibuk mendiskusikan rencana kami menyembunyikan sandal pak Fahimi (guru kelas empat yang galak itu) di Masjid Al-Hikmah."(LP hal.130)

"Tuhan hadir dalam setiap anak; usaha kita untuk membentuk anak itu akan mengubah Tuhan yang ada di dalam diri anak itu menjadi setan." (A.S.Neill)

Kenyataannya, Ikal c.s. semasa anak-anaknya memang nakal sejak hari-hari pertama di sekolahnya (LP hal.14), namunbukan berarti mereka tidak baik, kenakalan itu timbul ketika mereka menghadapi situasi tertentu di sekolah. Bu Mus & pak Harfan mengerti mereka, tidak memarahi mereka, memahami apa yang sedang terjadi, dan guru-guru itu mendapatkan tempat di hati mereka (LP hal.23-27,30-33), yang tentu berbeda dengan pak Fahimi yang galak & suka main gertak itu.

Flo,anak perempuan keluarga elit (ayahnya orang staf di PN Timah), semula bersekolah di sekolah PN Timah yang elit pula (LP hal.57-60) Flo bertindak & bersikap seperti anak laki-laki, hobi angkat barbel & kick boxing, perilaku ini mungkin karena hidupnya dibesarkan dalam keluarga yang kakak-kakaknya laki-laki semua (LP hal. 47-48). Pengkondisian orang di lingkungan tertentu bisa mengubah sikap & tindakan orang itu bahkan kepribadiannya meski dirinya berbeda dengan kelompoknya, umumnya jika dia 'tertidur', tidak sadar dengan dirinya sendiri. Namun Flo tidak sepenuhnya tertidur, dia berusaha 'bangun' dengan berperilaku demikian, menentang usaha ortunya untuk 'memerempuankan'nya (LP hal.46-48). Dia mungkin mengalami sesuatu yang membuatnya berperilaku demikian , namun ortunya & guru-gurunya gagal memahaminya, dia menjadi pemberontak, anti kemapanan, karena jenuh dengan yang dialami & didapatkannya selama ini (LP hal.358).

Tindakan Flo untuk melarikan diri dari teman-teman sekelasnya waktu hiking di gunung sangat tepat untuk pemecahan masalahnya, tidak peduli sejenak dengan keluarga, guru-guru ,& teman sekolah PN-nya yang cemas, sedih, & ketakutan (LP hal.308-309). Dia pergi ke alam bebas yang mungkin hal baru baginya, & menikmati kesendirian di tengah hutan perawan lebat yang dihuni binatang-binatang buas (LP hal.327-328). Flo bisa melupakan sejenak masalah yang tiap hari dihadapinya, dia juga bisa melepaskan dirinya dari keterikatan dengan perannya sehari-hari selama dua hari, & benar-benar berbahagia dengan caranya sendiri. Kebahagiaan menyebabkannya mampu bertahan dari maut selama dua hari di tengah hutan liar yang berbahaya (LP hal.309-312). Saya setuju dengan Flo pergi ke alam bebas, dia bisa mendapatkan lebih dari sekedar kesenangan yang didapt dari pemuasan selera, keinginan, atau hawa nafsu. Orang-orang yang 'tertidur' banyak mengejar hal itu daripada susah payah membebaskan dirinya dari ketakutan, kecanduan, kebencian, & kebodohan yang dialaminya.

Kebahagiaan Flo terus berlanjut dengan pertemuan dengan teman-teman barunya, Laskar Pelangi (LP hal.330). Kembali ke kehidupan sehari-hari, Flo tetap menjadi laki- laki (LP hal.355), namun dia sudah berubah. Dia memutuskan meninggalkan sekolah PN, bergabung dengan sekolah kampung Muhammadiyah dengan teman-teman barunya itu (LP hal.353). Di sekolah ini dia menjadi lebih baik, dasarnya dia pribadi yang terbuka, peduli dengan sesama, & bisa beradaptasi dengan lingkungannya (LP hal.359). Walaupun pertama kali datang dia membangkang bu Mus untuk duduk di samping Mahar (LP hal.355-356), dia menghormati para pengajar di sekolahnya & mencintai sekolah barunya (LP hal.359). Dukungan & keterlibatannya dengan sekolahnya total dilakukannya, seperti jadi supporter lomba cerdas cermat SMP (LP hal.366,370). Flo menjadi anggota Laskar Pelangi (LP hal.359), bersama-sama mereka dalam suka & duka (LP hal.427,431)

Masalah Flo bertambah lagi setelah pertemuannya dengan Mahar,dia menggemari dunia mistik untuk menguji nyalinya, memuaskan dirinya dengan sensasi mara bahaya & pengalaman horror & misterius (LP hal.360-362, 389-390, 392-397, 407-412, 415-421). Kecanduan dengan sensasi ini membutakan matanya dengan realitas yang wajib dihadapinya sebagai murid sekolah Muhammadiyah yang Islam puritan itu (LP hal.401-403). Tindakannya bodoh, meminta tolong Tuk Bayan Tula menyulap nilai-nilai ulangannya & Mahar jadi baik & meluluskan mereka ujian sekolah (LP hal.404-420), & untuk merealisasikannya, selain menghabiskan dana yang cukup besar untuk jaman itu untuk membiayai pelayaran ke pulau Lanun untuk menemui Tuk Bayan Tula (LP hal.405-406), mereka & kelompoknya harus menghadapi bahaya badai besar di tengah laut (LP hal.407-411). Kebodohan yang paling menyakitkan dialami mereka ketika membacakan pesan Tuk Bayan Tula di depan kelompoknya & orang banyak yang ingin tahu cerita seru petualangan mereka bertemu Tuk Bayan Tula (LP hal.421-424), karena Tuk Bayan Tula tidak memenuhi semua harapannya, bahkan menelanjangi kebodohan mereka sendiri dengan pesan                                             
"KALAU INGIN LULUS UJIAN: BUKA BUKU, BELAJAR!!"
    
(LP hal.424)               
 Pengalaman menyakitkan ini membuat Flo & Mahar tersadar,'bangun' dari kebodohannya. Mereka berdua membubarkan kelompoknya, kembali belajar & lulus ujian. Flo akhirnya juga berhenti menjadi laki-laki, dia dalam waktu singkat menampilkan sisi femininnya dengan santun sesuai dengan ciri sekolahnya (LP hal.473). Masalah bertahun-tahun akhirnya selesai setelah dia mengalami proses pengalaman seru & inspiratif, memberikan cara pandang baru yang jernih tentang hidup apa adanya tanpa ilusi harus menjadi ini itu, atau mengalami ini itu & kecanduan sensasinya, bahkan ilusi tingkat rendah tentang mukjizat yang mendatangkan kesuksesan tanpa usaha yang rasional (LP hal.474)    

Untuk lebih jelasnya, saya anjurkan Anda membaca buku referensi saya AWARENESS karangan Anthony de Mello, khususnya di bab 35&56.

Seni menjadi kenyataan

Kenakalan yang dilakukan oleh Mahar lebih kreatif ketika memimpin teman-temannya di acara karnaval 17-an. (LP hal.231-248) Supaya tarian suku Massainya lebih bagus, dia menambahkan kalung buah aren di leher teman-temannya. Akibatnya, mereka sangat gatal di sekujur tubuh & terus bergerak tidak karuan untuk mengalihkan rasa gatal yang luar biasa. Ternyata, aksi mereka ini membuat para penonton semakin tertarik menyaksikannya. Acara menjadi kian seru karena gerakan kacau mereka akibat gatal luar biasa itu seperti "trance" menyihir para penonton. Akhirnya sekolah Muhammadiyah menjadi juara pertama. Teman-temannya sadar akan pembalasan Mahar akan sikap mereka yang biasa melecehkan karya seninya, namun mereka tidak marah, karena penderitaan sementara yang dialaminya menjadi keberhasilan sekolahnya dalam karnaval 17-an. Mahar kreatif mengolah semua perasaannya dalam ide kreatif yang berguna bagi dirinya, teman-teman, & sekolahnya, setelah lama dilecehkan teman-teman yang tidak memahaminya. Mahar amat mahir dalam penghayatannya akan kehidupan, & dia istimewa karena semua kritik dan penilaian yang didapatkannya tidak menyurutkan hasrat seninya, justru dengan nakalnya dia bisa membalas kritikan teman-temannya dengan manis sekali. (LP hal.248)

Hikmah dari okultisme

"Aku mencari hikmah dari dunia gelap Ibunda dan penasaran karena keingintahuan. Tuhan akan memberiku pendamping dengan cara misterius…" (LP hal.351)

Mahar menjawab bu Mus yang menegurnya akibat nilai-nilai ulangannya jeblok akibat menjadi maniak perdukunan. Dia mendapat dukungan dari Flo yang suka bertualang & menantang keberanian (uji nyali). Kegemaran Mahar dengan dunia gaib muncul setelah Mahar & teman-temannya berhasil menemukan Flo di dekat gubuk ladang yang ditinggalkan sesuai dengan pesan Tuk Bayan Tula, paranormal sakti dari pulau Lanun. (LP hal.308-330)

Pernyataan Mahar ada benarnya, dia ingin mendalami kebenaran dari versinya sendiri walaupun bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kesalahan Mahar adalah tidak belajar di sekolah dengan rajin, lebih memprioritaskan hobinya itu. Dia tidak menyadari realitas yang dialaminya, lebih menuruti khayalannya. Intuisi Mahar membaca firasat memang bagus karena penghayatannya yang utuh tentang kehidupan, namun nafsu keinginan yang berlebihan membutakan pikiran & hatinya sehingga tidak bisa memilah tindakan yang tepat sesuai situasi & kondisi yang dihadapinya.

Fenomena supranatural atau alam astral memang ada & nyata, hal-hal ini bisa dilacak hubungannya secara ilmiah & tidak melulu didasari hal-hal gaib. Mahar & Flo bertindak tepat dengan membentuk kelompok untuk merealisasi hal itu, walaupun sebenarnya motivasi Flo hanya ingin menguji nyalinya dengan pengalaman mistis yang menyeramkan, sedangkan Mahar ingin mendalaminya & menyelidiki hubungannya dengan mitos, arkeologi, sejarah, ritual-ritual kuno, & kuasa penyembuhan (LP hal.360-361). Aktivitas mereka dilakukan dengan mendatangi lokasi-lokasi fenomena supranatural, mengumpulkan cerita-cerita yang berhubungan dengannya,& perburuan artefak magis. Namun mereka memakai metode ilmiah, mengungkap mitos-mitos yang salah,& bukti-bukti sejarah yang unik seperti kuburan-kuburan purba raksasa di Belitong. Mahar menghubungkannya dengan penelitian para ahli Barat tentang kehidupan manusia purba raksasa, juga penemuan kerangka manusia raksasa di Timur Tengah & Amerika yang setinggi 6 meter (LP hal.392). Manusia-manusia raksasa diungkapkan pula di Bible/Alkitab, Perjanjian Lama, kitab Genesis/Kejadian (juga termasuk dalam agama Yahudi & Al Qur'an tentang riwayat nabi dari Adam hingga Abraham/Ibrahim) pasal 6 ayat 1-8 sebelum Tuhan/Allah/Elohim menenggelamkan seluruh dunia pada zaman nabi Nuh/Noah, juga di Ramayana & Mahabharata, riwayat Budha Gautama & cerita Jataka, kepercayaan Tionghoa kuno (LP hal.260). Yang terinci saya baca di Mata Ketiga karangan Tuesday Lobsang Rampa yang menceritakan kehidupannya sebagai biksu lama di Tibet. Dikisahkan bahwa dia diarahkan oleh pimpinannya untuk khusus menekuni dunia supranatural lewat ritual, inisiasi, & latihan-latihan melihat aura badan orang, roh orang meninggal, beserta pelajaran ilmu tumbuhan ,pengobatan, anatomi, beladiri, yoga, metafisika, astronomi, bahasa-bahasa, matematika, selain ilmu agamanya sendiri tentunya. Yang menarik ,dia menjalani inisiasi terakhir di makam rahasia - di mana dia menyaksikan sendiri tiga badan manusia setinggi 3 - 4,5 meter – melakukan perjalanan astral ke jaman Tibet masih menghadap lautan (daratan India jutaan tahun lalu belum bersatu dengan benua Asia, hal ini sudah terbukti oleh ahli-ahli geologi & paleontologi) & mengalami dirinya hidup sebagai manusia raksasa & bergaul dengan kelompok manusia raksasa yang berperadaban lebih tinggi dari zamannya (awal abad ke-20M). Saya yakin Mahar semakin maju & terarah menuju cita-citanya sebagai penasihat spiritual & hypnotherapist ternama (LP hal.343) jika bertemu dengan Lama Lobsang Rampa yang berilmu tinggi daripada mendalami dunia mistik tingkat rendah (LP hal.406-308,360-361), mengingat intuisinya yang tepat & penglihatan lewat mimpi tentang masa depan Belitong & dunia (LP hal.398-399) yang menjadi kenyataan (LP hal.481-486). Sayangnya, dia belum berjodoh, & bersama-sama Flo malah terperangkap dalam ide & tindakan bodoh untuk mengatasi nilai-nilai buruk ulangan mereka dengan bantuan gaib Tuk Bayan Tula (LP hal.402-424).

Yang dilakukan Mahar dalam pencarian supranaturalnya tidak melulu bidaah melawan agama, dia bertemu dengan realitas unik yang didukung dengan intuisi tajamnya, & bisa menjelaskannya secara ilmiah. Agama Islam sendiri sebenarnya juga terbuka dengan fenomena supranatural, namun ditegaskan untuk tidak mengunggulkan hal ini menyaingi Allah, bila terjadi menimbulkan syirik. Pelaku-pelakunya pasti tersesat dengan kuasa iblis yang akhirnya membuat mereka menderita(LP hal.350-352). Nah, inilah yang tidak disadari Mahar & Flo, untunglah Tuk Bayan Tula tidak menuruti kesesatan mereka, malah dia mengingatkan mereka untuk rajin belajar, & ini juga menjadi sumber pencerahan bagi mereka & kelompoknya (LP hal.424).

Sungguh suatu keajaiban mereka akhirnya menyadari kebenaran ilahi dari "tokoh dunia gelap" manusia ½ peri (LP hal.474) bukan dari wejangan para ulama atau pemimpin agamanya sendiri. Kelompok yang dianggap sinting oleh sebagian besar penduduk Belitong ini menurut saya sukses memenuhi tujuannya, karena mereka telah mengungkap banyak realitas dari pengalaman & petualangannya yang penuh bahaya dengan ilmiah & manusiawi. Mereka bangun & sadar akan kesesatannya, kembali ke jalan agamanya dengan penuh kesadaran & keikhlasan membagi pencerahannya kepada orang lain.

The Real Master

Tuk Bayan Tula dikenal sebagai orang yang sangat sakti & setengah peri, atau bahkan setengah iblis (LP hal.312-314). Keberadaannya dipersepsikan macam-macam, seperti pengkhianat ajaran tauhid, pahlawan pemusnah santet yang ingin mati sebagai martir, seorang tua hidup sendiri akibat masalah perangkat syahwatnya (LP hal.314-315), superstar dunia gaib (LP hal.317), penipu ulung, dukun palsu oportunistik (LP hal.318), sang legenda, tukang dadu cangkir di pinggir jalan (jika pesannya untuk pencarian Flo gagal), dukun siluman (LP hal.319).

Ikal semula tidak percaya dengan Tuk, berkata dalam hati:"….rasanya aku ingin berangkat sendiri ke Pulau Lanun untuk menyita satu-satunya kain yang melilit tubuh Tuk."(LP hal.319) Ketika dia bertemu sendiri dengannya, Tuk digambarkan sangar, kejam dengan raut muka keras & kasar, rambut dan jenggot panjang, sakti & tajam indera keenamnya, berjalan tidak menginjak tanah, hidup dalam gua di lingkungan yang menyeramkan, sehingga dianggap musuh kaum religius.

Kehidupan Tuk mirip dengan sebagian kaum yogi atau pertapa di India, hidup menyendiri di dalam hutan, gunung-gunung, berpakaian seadanya atau bahkan telanjang. Ada yang bisa hidup tanpa makan, mempunyai kemampuan supernatural yang bermacam-macam dari hasil pertapaannya yang keras, belajar ilmu-ilmu yoga yang turun-temurun diwariskan sejak ribuan tahun silam di bawah bimbingan guru-gurunya. Bedanya, Tuk berbakat secara alami, belajar mendapatkan kesaktian dengan otodidak tanpa bimbingan siapapun, tentu saja stamina fisiknya sangat prima, intelegensinya tinggi, & kekuatan mental spiritualnya luar biasa, orang-orang biasa yang coba-coba mempelajari bisa gila, saya tambahkan bisa tewas atau cacat seumur hidup akibat salah pernafasan atau salah jurus. Tuk dengan kelebihannya menolong orang-orang yang menderita akibat penyalahgunaan ilmu hitam (LP hal.314) & membantu pencarian Flo yang hilang di tengah hutan (LP hal.318).

Tuk hidup menyendiri bukan hanya untuk menjaga kesaktiannya (LP hal.313), dia sadar akan bahaya kesaktiannya kepada orang lain. Tuk tidak menginginkan keduniawian,karenanya dia tidak keluar dari pulaunya. Indera keenamnya sangat bagus, dia responsif jika ada orang yang datang ke pulaunya meminta tolong, & dia memberikan bantuan yang tepat untuk mengatasi masalahnya. Sayangnya, kehidupan Tuk oleh sebagian masyarakat ditanggapi dengan prasangka, persepsi, & kabar miring (LP hal.312-315, 405, 414-417, 421).

Tuk sadar, tidak semua orang yang meminta tolong kepadanya harus dikabulkan. Flo & Mahar yang sesat keyakinannya perlu 'dibangunkan' dari ilusinya. Tuk meresponnya dengan bijak & kocak, mungkin aksi bertarung dengan iblis-iblis di gua cuma sulapannya untuk mengesankan mereka. Tuk membiarkan mereka 'tertidur' sejenak hingga 'bangun' dengan sendirinya, dengan pesan singkat yang memalukan mereka di depan orang banyak. Maka Tuk bisa dibilang seorang mistik –tokoh kebatinan- yang sejati, memicu kesadaran bukan hanya Mahar & Flo, juga orang-orang yang tergabung di kelompok yang dibentuk demi hobi klenik mereka.


 


Epilog


Saya menangkap pesan bahwa untuk menjadi baik tidak cukup hanya sekedar menaati aturan agama saja, perlu pemahaman benar & tepat sesuai kepribadiannya, mengalami proses kontinyu untuk melakukan yang baik dengan tulus, membersihkan batinnya dari kotoran nafsu serakah, benci, kebodohan, & khayalan yang menghalangi pikiran & hati. Anthony de Mello dengan bijak mengatakan:       
"bila mata tidak terhalang
maka hasilnya adalah penglihatan;
                                       
bila telinga tidak terhalang
maka hasilnya adalah pendengaran;
                                    
bila hidung tidak terhalang
maka hasilnya adalah penciuman;
                                        
bila mulut tidak terhalang
maka hasilnya adalah pengecapan;
                                        
bila pikiran tidak terhalang
maka hasilnya adalah kebijaksanaan;
                                    
bila hati tidak terhalang
maka hasilnya adalah cinta."


"hati yang mencintai adalah
hati yang peka
terhadap kehidupan yang utuh,                            
hati yang peka terhadap semua manusia,
hati yang tidak mengeras
terhadap orang-orang
atau benda-benda yang ada di sekelilingnya."

"kebijaksanaan berarti kepekaan terhadap situasi tertentu,
pada orang tertentu, tidak terpengaruh oleh pengalaman masa lalu
yang masih melekat dalam ingatan atau
yang masih melekat dalam ingatan atau
sisa-sisa ingatan mengenai pengalaman di masa lalu."


 


 

KETIONGHOAAN DALAM LASKAR PELANGI


 


 

Tionghoa dibahas di Laskar Pelangi sangat unik, karena melawan pendapat umum masyarakat tentang Tionghoa di Indonesia.

Tionghoa diceritakan sudah tinggal di Belitong sejak lama, diduga mereka datang pertama kali, ada bukti arkeologis seperti alat-alat pertambangan kuno, jadi mereka adalah pribumi. (LP hal.35) Pendapat umum yang dibentuk pemerintah di zaman Hindia Belanda & Orde Baru melabelkan Tionghoa sebagai non pribumi. Bahkan, Ikal menyatakan bahwa semua orang di sepanjang pesisir selat Malaka sampai Malaysia yang gemar akan irama musik & syair Melayu dianggap orang Melayu, tidak peduli dengan ciri-ciri fisiknya. (LP hal.162-163)

Tionghoa Belitong hidup dengan adat istiadat leluhur yang kuat,(LP hal.35) tetapi tidak hidup eksklusif & berbaur dengan semua etnis di Belitong, tidak seperti Tionghoa di daerah-daerah lain yang sudah luntur adat istiadatnya, bergaya hidup ala barat,& hidup eksklusif bagi yang kaya atau bagi kaum marginal hidup seperti orang kampung yang beradat lokal & berbaur dengan lingkungan sosialnya. Acara-acara keagamaan di kelenteng dibuka luas untuk umum,seperti ritual chiong si ku atau sembahyang rebut yang membakar patung kertas raksasa Thai Tse Ya atau raja hantu agar tidak ada sifat-sifat buruk & kesialan melanda di sepanjang tahun (LP hal.260),& diisi juga dengan hiburan seperi komidi putar, panjat pinang,& orkes Melayu.(LP hal.259) Bahkan, etnis-etnis lain selain Tionghoa boleh ikut mengambil barang-barang sumbangan umat Kong Hu Cu dalam ritual ini. (LP hal.259,262,264) Jadi, pendapat umum tentang adat & tradisi Tionghoa yang eksklusif yang diperkuat dengan pelarangannya di zaman Orde Baru untuk mengindonesiakan Tionghoa tidak masuk akal, sebab ritual chiong si ku ini memperkaya seni & budaya & mengandung pesan moral tentang sifat dasar manusia yang egois, tamak, merusak,& agresif. (LP hal.262) Ini hampir seperti tradisi Bali saat Nyepi atau tradisi Jawa saat Suro, yang membakar ogoh-ogoh setelah diarak keliling pemukiman warga. Ajaran Kong Hu Cu yang nyata dengan kejujuran, rendah hati,& kerja keras diapresiasi positif oleh Ikal yang muslim, (LP hal.35,202) & Islam juga mengajarkan hal yang sama. Kebiasaan Tionghoa membersihkan badan seperti mandi, memotong kuku,& merapikan rambut (LP hal.177) juga senada dengan pernyataan Islami: kebersihan adalah sebagian dari iman. Akiong dari keluarga Kong Hu Cu boleh bersekolah di SD Muhammadiyah yang Islami (LP hal.14,26), dia tekun belajar walaupun sakit (LP hal.254), jadi pemerintah di zaman Orde Baru sangat konyol melarang agama Kong Hu Cu tumbuh di Indonesia.

Kesenjangan ekonomi yang biasa ditonjolkan di media massa & pendapat umum antara Tionghoa yang lebih kaya dibanding etnis-etnis lain di Indonesia tidak dominan lagi. Di dalam komunitas Tionghoa sendiri tidak semuanya kaya, keluarga Akiong termasuk golongan terbawah dikenal sebagai Tioghoa kebun (LP hal.26) yang bekerja menggarap sebidang kebun sawi, begitu miskinnya sehingga menyekolahkan Akiong di SD Muhammadiyah (LP hal.68) yang tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun,& menerima sumbangan sukarela dari orangtua murid (LP hal.4) & sumbangan umat muslim. (LP hal.251) Dalam kondisi demikian,sekolah ini dipercaya A Miauw, pemilik toko Sinar Harapan mendapat utang kapur tulis yang dibayar bulanan oleh Pak Harfan, kepala sekolahnya. (LP hal.206)

Dalam etnis Tionghoa yang bermacam-macam suku, tidak banyak orang Indonesia yang tahu. Ikal memahaminya, dia bisa mengenal suku Hokkian, Kek, Tongsan, karena dia pasti sering berinteraksi dengan Tionghoa. Jumlah Tionghoa yang tinggal di kampungnya lumayan banyak, 1/3 dari jumlah penduduk, (LP hal.35) tidak seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia jumlah Tionghoanya lebih sedikit dan menjadi minoritas dalam masyarakatnya.

Interaksi antara Tionghoa dan etnis-etnis lainnya di Belitong sangat unik, seperti transaksi bisnis 3 bahasa yang berlangsung lancar. Fenomena ini oleh sebagian orang dianggap rekayasa Tionghoa demi keuntungannya sendiri, padahal itu terjadi karena perbedaan budaya tiap etnis.(LP hal.202) Ikal menilai Tionghoa yang ditemuinya dengan baik & manusiawi dengan pemikiran-pemikiran kocaknya yang imajinatif, usil,& apresiatif sesuai dengan budaya Tionghoa yang dipahaminya tentang hoki & bisnis.(LP hal. 202-203) Ikal mengungkapkan fenomena etos kerja & disiplin Tionghoa yang menjadikannya sukses dalam finansial,& mengkritik orang Melayu yang jelek mengatur finansialnya,(LP hal. 202) & lebih jelek dalam kepemimpinan & organisasi, suka debat kusir & menjatuhkan sesamanya sendiri, (LP hal.264) & amat jelek dalam mengatur tata kota, sehingga pasar semrawut & bau busuk,(LP hal.199-200) namun Tionghoa bisa hidup & bekerja dalam lingkungan pasar kumuh itu karena letaknya yang strategis secara bisnis.(LP hal.200) Kenyataan ini bisa menjadi bahan perbaikan fisik & mental masyarakat umum yang mau maju ke depan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Kehidupan budaya antar etnis yang berbeda di zaman Ikal yang masih kecil belum terpengaruh globalisasi, jadi hubungan antar etnis hingga pernikahannya adalah tabu,(LP hal.251,253) namun Ikal yang tulus mencintai A Ling bisa mengalaminya dengan bekerja sama dengan Akiong. Tiga orang ini tidak mau terperangkap pandangan picik dari kaumnya sendiri, & hubungan ini berefek konstruktif terutama pada Ikal, perkembangan mentalnya jadi signifikan & tidak down terus saat dia harus berpisah dengan A Ling. A Miauw, ayah A Ling, ternyata cukup apresiatif dengan Ikal & anaknya,& mau memberikan hadiah perpisahan mereka pada Ikal, diary & buku cerita karya Herriot yang jadi inspirasi dinamika hidupnya di masa depan.(LP hal.297-298) Ini mengurangi sentimen negatif hubungan antar ras yang disangka sebagian orang didorong motif ekonomi, perbaikan status,& tipu daya demi keuntungan pribadi.

Akiong menjadi muslim & berganti nama Nur Zaman, bukan berarti Akiong mengkhianati kaumnya sendiri, dia menemukan kecocokan pribadinya dengan Islam yang sudah dikenalnya waktu sekolah dulu setelah mengalami proses panjang dalam kehidupan religiusnya.(LP hal.464-465) Tekanan Orde Baru yang menghambat Kong Hu Cu & pengaruh budaya barat mengakibatkan ajaran asli Kong Hu Cu kian susah dipahami, akibatnya banyak Tionghoa ramai-ramai berpindah agama, umumnya ke agama Nasrani yang bebas dari ritual doa yang ribet, tidak melarang mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram secara syariat Islam, sehingga selanjutnya masyarakat cenderung menganggap Tionghoa beragama Nasrani. Karena kepicikan turun temurun yang direkayasa penjajah Hindia Belanda dalam politik memecah belahnya, banyak Tionghoa yang pasti sinis & menghina Akiong, apalagi dia juga cinta dengan Sahara yang Melayu. Padahal itu terjadi alami, sejak dia sekolah berinteraksi dengannya, & setelah belasan tahun akhirnya bisa menyatakannya langsung kepadanya & ortunya untuk menikahinya. Akhirnya mereka menikah, punya anak,& Akiong membuka toko kelontong di samping toko pamannya, A Miauw.(hal 465-466,455-456) Fenomena Akiong ini bukan berarti Tionghoa sebaiknya menjadi muslim, melainkan tiap manusia perlu proses untuk memahami dirinya sendiri dengan seksama & tulus, mencari & mendapatkan pegangan hidup spiritual yang cocok dengan mindsetnya amat penting daripada hanya menjadi makhluk ekonomi sejati atau pengejar cinta buta yang rela berganti agama demi mendapat gadis pujaan, atau makhluk hedonis yang gemar mencari wanita-wanita simpanan. Keputusan Akiong yang menjadi muslim dengan tulus, hendaknya jadi acuan bagi seluruh Tionghoa di negeri ini yang kadang-kadang menggunakan label-label agama tertentu dengan fanatik atau sebagai kedok untuk meraih keuntungan finansial semata & menyamarkan identitas aslinya demi kemudahan fasilitas politik & bisnis.

 

ShoutMix chat widget