SIFAT MENUJU KETUHANAN DALAM SANG PEMIMPI DIPANDANG DARI DHARMA
Account illumination
Sang Pemimpi ditulis begitu singkat, namun singkatnya tulisan tidak mengurangi pesan-pesannya kepada pada para pembacanya.
Salah satu pesan yang disampaikan adalah pesan religius, yakni sifat-sifat menuju Ketuhanan yang menurut saya sangat universal jika kita tidak terikat dengan latar belakang agama dan budaya yang dikemukakan.
Nah, Dharma yang saya bahas adalah pandangan-pandangan yang berujung pada Buddha dan Hindu, merupakan latar belakang yang kini saya dalami, dan saya gunakan untuk membahas sifat-sifat Ketuhanan ini.
Kejujuran isi hati yang disikapi dengan bijak dan segala keterbatasan kemampuan merupakan pesan pertama yang saya tangkap dari Arai. Dia telah kehilangan kedua orangtuanya di masa kecil (SP hal.24-26), namun ia berusaha mengalihkan pikirannya pada upaya membahagiakan saudara sepupu dan familinya (SP hal.26-32). Rasa kehilangan tetap ada di hatinya, dan secara bijak ia mencurahkannya dalam ritualnya, membaca kitab suci Alqur'an dengan penuh perasaan duka itu dengan harapan Tuhan Sang Pencipta bisa mengobati kerinduan terhadap orangtuanya (SP hal.33).
Arai adalah contoh baik seorang mampu mengatasi kemelekatan (istilah Buddhis terhadap sifat manusia yang tidak ikhlas atau rela kehilangan sesuatu yang dicintainya atau disukainya, padahal sesuatu tersebut tidak abadi adanya). Bayangkan, anak sekecil itu, di saat dia pasti sangat memerlukan perhatian penuh dari orangtuanya, dikondisikan untuk berpisah selamanya, namun dia masih diliputi keberuntungan, familinya masih peduli kepadanya, dan mau memelihara Arai seperti Ikal, anaknya sendiri. jika dipandang secara hukum karma, Arai tidak 100% mengalami karma buruk, bisa jadi dia dikondisikan demikian demi kemajuan dirinya, dan dia bisa melalui kondisi buruk itu. Dia masih mendapatkan buah karma baiknya, yakni perhatian dari famili dan saudara sepupunya, Ikal, namun dia tidak terlena.
Perasaan ikut berdukacita yang diekspresikan mereka disambutnya dengan antusiasme ketegaran yang sangat kokoh bagi anak sekecil itu, dengan mengubah dukacita menjadi kegembiraan, dan selanjutnya Arai dengan kreatif berbuat kebaikan-kebaikan yang tulus demi kebahagiaan Ikal dan keluarganya. Apa yang dialami Arai dan yang dilakukannya mengubah kondisi dirinya sendiri menunjukkan pada kita, bahwa hukum karma memang menguasai seluruh siklus kehidupan kita, namun kita bisa bertindak secara kreatif dengan mengambil hikmah terutama dari kejadian atau kondisi buruk yang kita alami itu, jadi kita berproses seperti Arai, berubah menjadi lebih kuat dalam mengatasi masalah berat, menjadi lebih baik dan perhatian dengan sesama, walaupun masih belum bisa mengikis kesedihannya itu. Maka di sini pula, tidak bisa dikatakan bahwa Tuhan Sang Pencipta yang disembah dalam agama Yahudi, Nasrani, Islam, dan juga Hindu merupakan Pribadi yang semena-mena, kejam, dan tidak adil, dan diktator, pasti dalam setiap aksiNya adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. Bagi Arai, Tuhan menjadi curahan kesedihannya, dan hasilnya yang nyata dia menjadi lebih proaktif, lebih peka, dan mampu bertindak tepat dalam setiap situasi yang gawat, dan menjadikan hidupnya sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, dan sesama.
Hidup dalam kebersamaan yang penuh kasih tanpa mengubah sesama yang dikasihi berdasarkan kesadaran akan kesatuan tunggal dalam sekian bamyak sisi perbedaan yang manusiawi adalah pesan kedua yang bisa saya tangkap berikutnya dari kehidupan si Jimbron yang yatim piatu diasuh oleh pendeta Geovanny (SP hal.60-61) dan kehidupan Laksmi yang bernasib sama dengan Jimbron yang diasuh seorang Tionghoa Tongsan pemilik parik cincau (SP hal.78).
Kepedulian sosial yang ditujukan dari pihak para penolong sangat tulus, harapannya yang pasti adalah kebahagiaan dan perbaikan kondisi dari yang tertolong secara alami tentunya. Saya sangat terharu dengan sikap para penolong sejati yang mendorong kemajuan mental dan moral religius anak-anak itu sesuai dengan latar belakang keluarganya, bukan menurut "labelnya" agama yang dianut para penolong itu. Mereka tidak mengubah "jalan hidup" anak-anak yatim piatu tersebut, mereka tetap menempatkan anak-anak itu pada jalannya semula, toh jalan-jalan mereka sendiri tujuannya adalah sama, justru tindakan mereka ini juga berdampak balik pada kemajuannya sendiri dalam proses perkembangan mental menuju pada kebebasan dari segala keterbatasan, pengkondisian, dan keterikatan yang menimbulkan penderitaan seluruh manusia di muka bumi ini.
Dari "kulit"nya, semua agama, bahkan semua sekte dalam satu agama itu sangat berbeda satu sama lain, sebenarnya ini desain yang sempurna bagi semua manusia untuk mengikuti jalan yang ditunjukkan sesuai dengan sifat-sifat dan watak pribadinya. Semua bentuk kepercayaan, ritual, keyakinan, tersedia bagi miliaran corak kepribadian manusia yang eksis di muka bumi ini, dan tidak semua manusia mampu mengikuti satu jalan di antara banyak jalan lainnya yang semua tujuannya adalah sama. Jika hal itu dipaksakan, tentu sebagian besar orang tidak akan pernah bahagia selama hidupnya. Bahkan, dalam satu lingkungan yang paling homogen sekalipun, pemaksaan suatu metode tidak akan menghasilkan kebahagiaan pada seluruh umatnya, Seperti yang dikemukakan A.S.Neill, upaya untuk mengubah seseorang apalagi anak-anak sesuai dengan ide si pengubah malahan mengubah Tuhan di dalam dirinya itu menjadi setan, seperti kasusnya Taikong Hamim (SP hal.58-60,64-65).
Dalam dharma yang sejati, pemahaman manusia terhadap dirinya sendiri lebih penting demi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapinya, ritual-ritual dijalankan secara tulus selain demi penghormatan kepada Yang Mahatinggi, juga untuk menimbulkan pengertian benar akan segala sesuatu, dan pemahaman tentang ajaran yang disampaikan guru-guru besar itu tidaklah hanya berhenti dalam pemahaman secara ritual dan intelektual belaka, namun sebaiknya dihayati, dijiwai, diresapi, bahkan dialami secara pribadi dan khusus sesuai dengan kepribadiannya, agar dapat dilaksanakan oleh umatnya dengan sadar dalam hidupnya, demi keselarasan hidup dengan dirinya sendiri, sesamanya, dan alam lingkungannya. Masalah eksistensi Ketuhanan sebaiknya terserah pada masing-masing individu, sesuai dengan fase-fase kesadaran yang dialaminya, dan bukan dijadikan bentuk-bentuk khayalan yang sangat menyesatkan. Khayalan-khayalan yang dimaksud adalah hasil gambaran mental dari pikiran-pikiran orang yang masih dikotori kemelekatan terhadap nafsu-nafsu, kebencian dan kedengkian, kebodohan, - kesalahan dalam pemahaman dan pandangan yang menyesatkan si pemikir itu sendiri, karenanya khayalan menjadi rintangan bagi tiap orang untuk berproses menuju kebahagiaannya yang sejati.
Selama pikiran seseorang masih diliputi khayalan, dia tidak menyadari yang dilakukannya. Pelecehan terhadap ritual atau ibadah seperti yang dilakukan Arai (SP hal.64-65) walaupun untuk sementara bisa menyeimbangkan perasaan dari sakit hati akibat kekejaman Taikong Hamim, merupakan kesalahan yang tercela, sebab mengganggu para jemaah lain yang shalat dengan khidmat dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan umum. Selain itu, pelecehan ini merupakan tindakan merusak terhadap berkat Sang Pencipta dan hasil perjuangan para suci yang diamalkan demi keselamatan seluruh manusia. Ungkapan "Tuhan Tahu, Tapi Menunggu" (SP hal.65) tidak bisa diterjemahkan sebagai peringatan pembalasan saja, namun ini adalah konsekuensi logis dari aksi Arai yang demikian. Bukan karena Tuhan marah, para nabi murka, Semuanya Mendendam, itu adalah mekanisme alamiah yang bekerja, secara dharma Arai wajib menerima buah karmanya di masa depan. Saya merasa tidak cocok jika Tuhan dan para suci atau nabi "dikotori" dengan sifat-sifat manusia yang buruk karena SemuaNya bebas dari segala pengkondisian, termasuk sifat-sifat tadi, hanyalah keterbatasan pemahaman kitalah yang tidak akan mampu memahami Ketidakterbatasan tersebut. Maka, kita sebaiknya melepaskan khayalan-khayalan. Khayalan-khayalan bisa dilepas dengan meningkatkan kesadaran kita akan diri sendiri.
Diri kita sendiri mempunyai keinginan tak terpuaskan untuk menikmati yang bisa dicerap panca indera dan pikiran, dan karenanya "mata kita" menjadi buta akan kenyataan bahwa keinginan ini beserta nafsu-nafsunya tidak akan habis-habis untuk dipenuhi dan dipuaskan, dan kita menjadi takut akan tidak terpenuhinya keinginan-keinginan kita itu. Dari ketakutan timbul kemarahan, kebencian, dan tindakan jahat sebagai reaksi nyata untuk menyelamatkan diri kita dari rasa takut kehilangan kenikmatan dan rasa takut akan pertemuan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, begitu seterusnya berulang-ulang sehingga kita tidak mengetahui apakah yang sebenarnya terjadi pada diri kita, apa yang telah kita perbuat, apa yang akan kita trima sebagai hasil perbuatan itu, dan kelanjutannya. Ketidaktahuan ini menimbulkan pengulangan terhadap keinginan dan kebencian tadi, menjebak diri kita sendiri untuk hidup tanpa menyadari realitas hidup ini.
Perbuatan Arai tidak sepenuhnya didasari kebencian luar biasa terhadap Tuhan, dia melakukannya untuk membalas perlakuan keji Taikong yang juga buta hatinya. Perbuatan Arai tercela, namun bobot motivasinya dan sebab-sebab timbulnya pemikiran demikian juga mempengaruhi akibat dan hukuman yang pasti diterimanya. Arai tidak hanya membuat karma buruk, tentu dia juga melalui proses pembelajaran yang sangat bermakna demi peningkatan kesadarannya.
Peningkatan kesadaran ini akan menyebabkan semua orang terbebas dari khayalannya, mereka akan menyadari dirinya sendiri dan Keberadaan yang melingkupinya, dan hidup lebih baik, lebih harmonis dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam lingkungan, beserta Keberadaan – yang bisa disebut Tuhan – atau pemahaman yang lebih baik mengenaiNya.
"What we do in life…, echoes in eternity..!!" (SP hal.72) Yang kita kerjakan saat ini dalam hidup kita akan bergema dalam keabadian. Pernyataan ini hampir mendekati kebenaran dharma tentang hukum karma. Selama ini banyak orang salah paham tenteng karma yang disinonimkan sebagai nasib, terutama nasib yang buruk. Padahal, karma seseorang terbentuk dari kehendaknya akan sesuatu dalam hidupnya, terus dia melakukan yang dikehendakinya dan terjadi kondisi yang dialami orang itu sebagai akibatnya.
Dalam intisari dharma, karma inilah yang menyebabkan "keabadian" eksistensi pribadi seseorang, tergantung dari kekuatan karma itu, menyebabkan proses perubahan yang berkesinambungan dalam satu kehidupannya, dari lahir hingga mati, dan lahir lagi,dan seterusnya. Secara Buddhis, tiada jiwa yang kekal, unsur-unsur yang mendukung kehidupan itu berpencar dan berkumpul lagi membentuk kesadaran, perasaan, pikiran baru beserta tubuh baru sesuai dengan kekuatan karmanya. Secara Hindu, jiwa itu kekal, hanya berpindah, "berganti baju" badan fisik di alam mana saja dengan kekuatan karmanya pula. Namun kedua pandangan luas itu menganjurkan agar tiap-tiap manusia memperbaiki dirinya sendiri, untuk melepaskan diri dari kondisi-kondisi buruk (menderita), menciptakan kondisi-kondisi baik (berbahagia) dan selanjutnya melepaskan semua pengkondisian itu, untuk menyatu dengan Tuhan yang disebut dengan Nirvana atau Nibbana, yang dimengerti sebagai kebebasan mutlak manusia dari segala pengkondisian dan penderitaan duniawi, dan selanjutnya tidak akan bisa dijelaskan lagi, karena tiap-tiap orang wajib mencapai dan merasakannya sendiri secara pribadi. Tidaklah mungkin saya bisa merasakan lezatnya kue yang sedang anda makan kecuali saya ikut makan kue itu.
Seruan penuh energi inspiratif Pak Balia yang membangkitkan antusiasme murid-muridnya akan ilmu pengetahuan dan usaha demi mencapai cita-citanya (SP hal.72-77) perlu digemakan oleh tiap pendidik, para pemimpin, dan setiap orang bebas kepada siapa saja. Tokoh proklamator yang berwibawa dan merakyat, Bung Karno, pernah berseru kepada kita,"Gantungkan cita-citamu setinggi langit!!!"
Apa yang diserukan, bukan siapa yang menyerukan, adalah pemicu efektif bagi kita untuk lebih sadar akan ketidakterbatasan (yang secara religius diungkapkan) yang dianugerahkan Tuhan kepada kkta untuk disyukuri dan digunakan dalam upaya kita memperbaiki hidup. Kemajuan ekonomi dan kemampuan finansial membantu sesama dan mendorong kemajuan orang-orang secara kolektif dalam finansial, adalah penting bagi bangsa ini untuk kesejahteraan hidup bersama. Ekonomi yang tumbuh dinamis dan kebebasan finansial memungkinkan kita mengupayakan kemajuan sains dan teknologi, namun sebelumnya kita wajib mengembangkan kesadaran akan kasih dan kemanusiaan yang bersumber dari pengalaman religius yang menyadarkan keberadaan kita sendiri yang hidup di alam semesta yang menjadi bagian dari Keberadaan Yang Tunggal itu sendiri.
Kemelekatan terhadap nafsu-nafsu adalah tipuan pikiran sendiri yang merintangi perkembangan diri kita. Pertemuan Ikal, Arai, Jimbron dengan tontonan film yang menggairahkan nafsu syahwat (SP hal.97-100, hal.106-111) hanya sebagian kecil dari fenomena kaum muda yang tergoda ilusi murahan dari bisnis film yang tidak bermutu. Saat ini, kita isa mengakses tontonan-tontonan yang lebih seru daripada yang mereka tonton, bahkan kita bisa mendapat pengalaman untuk memuaskan libido kita, tergantung dari tebal tipisnya kocek kita. Namun segala upaya kita untuk memuaskan nafsu kita sendiri tidak akan mampu mengimbangi tuntutan sang nafsu yang terus membara. Karena diri kita telah dikuasai oleh nafsu, maka kita tidak menyadari lagi diri kita yang sebenarnya. Segala aktivitas kita hanya berfokus pada pemuasan nafsu, yang menyebabkan kita lebih liar daripada binatang yang paling buas seperti harimau, yang hanya sekali melakukan perkawinan dalam setahun, atau semua binatang di muka bumi ini yang melakukan aktivitas seksual mereka dalam masa-masa tertentu atau pada musim-musim tertentu sesuai dengan hukum alam.
Kita sebaiknya menyadari bahwa seksualitas seutuhnya berarti berkat dari Sang Pencipta untuk melestarikan keluarga kita, untuk menyegarkan pikiran dan badan kita jika dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tentu, kita tidak bisa memaksa pasangan kita untuk memuaskan libido kita jika dia sedang tidak mau atau sedang mengalami gangguan fisik atau mental. Kita wajib menjaga kebersihan dan kesehatan diri kita agar tidak menularkan penyakit yang berbahaya kepada pasangan kita. Yang terpenting, adalah kesetiaan kita dengan pasangan kita, karena seks bukanlah semata-mata masalah fisik, namun menyangkut dengan penghormatan, penghargaan, dan komitmen antara dua pribadi untuk hidup bersama dalam suka dan duka, dan saling pengertian dan melengkapi di antara mereka untuk mengikis ego dan kotoran-kotoran batin masing-masing pribadi.
Seks bebas juga sebaiknya dihindari walaupun kita masih belum menikah, karena selain berisiko tertular penyakit-penyakit yang berbahaya, energi kita menjadi terkuras, sehingga kita tidak mampu bekerja secara maksimal. Pikiran kita bisa menjadi kacau dan semakin bodoh, sebab nafsu birahi yang menguasai diri kita yang membuat kita lebih liar dari binatang-binatang di alam rimba. Hawa energi (prana atau chi) kita menurun, dan berpengaruh pada stamina fisik, metabolisme sel, dan daya tahan tubuh terhadap penyakit melemah, dan harus dipulihkan dengan meditasi dan olah raga yang diarahkan untuk itu. Demi pemenuhan nafsu yang tak terkendali, tentu kita akan menguras tabungan bahkan penghasilan kita, selain stamina fisik kita, ketenangan mental spiritual kita, dan terutama adalah masa muda. Kita tidak akan lagi mendapatkan masa muda, waktu kita sebagai kaum muda pasti akan berlalu, digantikan dengan kondisi badan yang semakin menua, di mana kita tidak mampu menikmati masa muda seperti dulu, dan tidak bisa bekerja sekuat dulu, dan penghasilan yang akan kita dapatkan tidak sebesar pada saat kita masih muda. Tubuh kita yang menua pasti diganggu banyak penyakit, apalagi bagi yang melakukan aktivitas apapun secara berlebihan, akan mendapatkan efek penderitaan fisik yang lebih parah. Jika kesadaran kita menjelang kematian masih saja berkutat dengan hal-hal demikian, maka kita akan menderita setelah kematian. Kelanjutan dari pikiran-pikiran kotor melahirkan kita kembali ke alam-alam penderitaan, dan sulit bagi kita untuk lepas dari alam-alam itu. Maka sebelum terlambat, hendaknya kita mengendalikan nafsu kita seperti halnya kita mengendarai kendaraan kita. Kita naik, menjalankannya dengan tujuan untuk berpindah tempat, dan kita menghentikan dan turun dari kendaraan itu. Menahan atau mengekang nafsu seperti mengerem kendaraan kita, namun di saat yang sama kita lupa melepaskan gas yang mendorong laju kendaraan itu, yang terjadi selanjutnya adalah rem tersebut pelan-pelan aus dan laju kendaraan takkan bisa dihentikan lagi.
Kesalahpahaman dalam praktek-praktek bisnis informasi dan hiburan yang cenderung menampilkan seks yang tidak utuh menyebabkan salah paham dalam masyarakat awam. Penyajian citra seksualitas sebagai yang menggairahkan dan godaan yang memabukkan hanya menguntungkan segelintir pelaku bisnisnya, dan akibatnya, para konsumen yang salah paham terhadap eksistensinya menjadi teracuni, dan efek keracunan itu adalah ketagihan yang mendatangkan repeat order, dan tentu menghasilkan keuntungan yang amat fantastis bagi produsennya.
Adalah tidak bijaksana jika pemerintah langsung bertindak reaktif dengan melarang peredaran produk-produk bisnis itu, menutupnya, bahkan menangkapi para pelaku bisnisnya. Juga tindakan yang sangat tolol jika yang berwajib menangkapi seluruh konsumennya, karena tindakan mereka tidak akan menyelesaikan masalahnya, justru malah melanggengkan eksistensi bisnis itu, karena sejak "zaman Adam dan Hawa", larangan dari Tuhan sendiri justru menjadi godaan yang menarik untuk dilanggar, tidak peduli konsekuensi dari pelanggarannya, maka Adam dan Hawa – demikian menurut kitab suci Yahudi, Nasrani, Islam, maka mereka melanggarnya.
Lebih baik pemerintah membatasinya, dan mengenakan pajak yang sangat-sangat tinggi baik kepada pelaku bisnis ilusi yang menggairahkan ini beserta para konsumennya, dan demi menghormati masyarakat yang religius dan beradab, maka pemerintah wajib menutup lokasi bisnis itu dari anak-anak, remaja di bawah umur, kaum muslim, dan hanya memperbolehkan sebagian orang yang berlimpah-limpah hartanya atau para turis dewasa untuk masuk dan menikmati segala produk yang disajikan di tempat itu. Nah, dengan demikian, negeri ini tidak 'terkontaminasi' berlebihan dengan adanya bisnis itu, bahkan akan semakin kaya, karena pendapatan pajak yang konstan akibat ketagihan para konsumennya, dan tentu mampu menyejahterakan rakyatnya dengan merata. Saya mohon pengertian anda, bahwa sebenarnya uang adalah netral, pikiran
kita sendiri yang melihatnya sebagai akar kejahatan seperti halnya pikiran anda yang menyatakan perang terhadap pornografi dan pornoaksi. Selain itu, bisnis ini pasti mengalami kejenuhan, bahkan kelesuan dan penurunan yang signifikan, karena konsumennya suatu saat pasti jenuh, bosan, dan muak akan kenikmatan yang telah dirasakannya. Pelan-pelan, bisnis ini akan mengalami penurunan laba yang tajam, dan akhirnya tutup karena sudah tidak mendatangkan laba bagi para pelakunya.
"Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…"(SP hal.153)
"…,kita tidak akan pernah mendahului nasib kita!!" (SP hal.153)
"Pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia!!" (SP hal.148)
Dalam hidup yang singkat ini, kita lahir ke dunia ini bukan kebetulan, melainkan demi suatu maksud yang telah kita tetapkan di kehidupan terdahulu yang belum tercapai. Minat yang sangat besar terhadap sesuatu idang yang membuat kita tumbuh dan berkembang lebih baik bisa menumbuhkan cita-cita. Cita-cita ini yang juga disertai mimpi-mimpi yang fantastis (dari hal yang mustahil menjadi hal yang bisa terjadi) merupakan motivasi dahsyat yang mendorong kita berusaha dalam hidup ini. Tentu saja cita-cita ini didasarkan pada kenyataan hidup yang kita alami yang perlu kita ubah sesuai harapan kita (yang baik tentunya), bukan bentuk-bentuk khayalan yang menipu diri kita sendiri. cita-cita ini yang mendorong sekalian para suci, seperti Zarathustra, para yogi purba, Buddha Gautama, Lao Tze, Kong Fu Tze, para nabi Timur Tengah purba, Yesus, Muhammad, Nanak, hidup di antara manusia, memberi teladan, ajaran, dan membagikan pencerahan kepada kita semua. Cita-cita ini yang mendorong para leluhur purbakala kita menciptakan peradaban yang tinggi, memperbaiki taraf hidup masyarakat dan demi kemajuan seluruh manusia, juga demikian dengan cita-cita para penemu, penjelajah, pemikir, filsuf, seniman, olahragawan, dan orang-orang besar lainnya.
Sayangnya, dalam usaha mencapai cita-cita, kita sering terpengaruh realitas yang umum: hidup (kita) semakin tak mudah (SP hal.143). Pergaulan kita dengan mereka yang tidak visioner juga berpengaruh negatif terhadap diri kita (SP hal.143-145).
Maka, tidak salah jika Sang Buddha menghimbau kita untuk tidak bergaul dengan orang-orang dungu yang bersifat pesimis. Jika pemikiran kita belum teguh, kita mudah terpengaruh dengan opini-opini mereka, padahal pikiran kita adalah pemimpin diri kita dalam menjalani hidup ini. Secara tidak sadar juga, kadangkala kita membuka pintu lebar-lebar terhadap pengaruh teman, media, dan kejadian-kejadian buruk yang kita alami, sehingga lambat laun usaha kita demi mencapai cita-cita tidak akan maju-maju alias jalan di tempat karena selalu direm oleh kita sendiri.
Maka, sebaiknya kita mendekatkan diri kepada mereka yang optimis, bijaksana, dan pengaruh media yang positif. Lebih baik kita menghindari tontonan atau percakapan yang penuh dengan keluh kesah dan ratapan-ratapan hina, amarah yang bergelora, dan sumpah serapah, serta makian lainnya yang membangkitkan kebencian, atau penyesalan, ratap tangis, kesedihan yang sia-sia diungkapkan, karena semuanya mampu menguras energi murni yang anda pakai demi mengejar cita-cita. Lebih baik kita berteman dengan mereka yang optimis, bukan hanya yang berpikir positif, karena berpikir positif saja berbahaya, kita bisa tertipu karenanya, dan tidak akan pernah mencapai sukses dengan nyata. Perdamaian dengan diri sendiri mutlak diperlukan, karena kedamaian yang menimbulkan ketenangan batin dan pemikiran adalah kondisi yang tepat bagi kita untuk bertindak tepat pada saat dan tempat yang tepat pula.
Dalam hal ini, kita juga sebaiknya tidak begitu saja menelan mentah-mentah nasihat para motivator, karena belum tentu yang mereka sampaikan cocok dengan hati kita. Kita sebaiknya memahami dan "mengunyah" dulu apakah maksud yang terkandung dalam setiap ucapan, intonasinya, dan program-program yang ditawarkannya. Jika kita merasa cocok, mempraktekkannya, membawa kemajuan yang efektif, boleh kita teruskan, namun apabila ternyata diri kita sendiri menolak mengerjakannya dan jika dipraktekkan tidak membawa hasil, sebaiknya nasihat itu ditinggalkan, karena yang paling penting sebenarnya adalah ketenangan diri kita dan kemajuan nyata kinerja kita, bukan nasihat-nasihat motivator yang keluar berdasarkan rekaman pengalaman pribadinya atau membeo dari buku-buku yang dibacanya, atau dari kata-kata orang bijak lainnya.
Sifat-sifat dharma yang universal, yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Buddha Gautama, para resi-resi atau bhagavan dan yogi-yogi lainnya, berada sangat dekat, tak terhalang waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dan dapat diselami para bijaksana dalam batin masing-masing dapat menjadi inspirasi kita untuk mencapai cita-cita. Pelaksanaan dari ide-ide yang dicita-citakan sebaiknya disesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan (possibilities) sebagai kesempatan untuk mewujudkannya (SP hal.163-165, 241, 250). Dengan demikianlah cita-cita bisa kita realisasikan dalam hidup ini.
Kesuksesan yang diraih dalam mencapai cita-cita patut disyukuri dan ditingkatkan lagi. Kesuksesan kita adalah buah dari hasil perjuangan kita yang mengikuti dharma kita sendiri. Kuasa ilahi yang mengkondisikan segalanya terjadi kembali pada keyakinan tiap-tiap orang yang tampaknya berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain, namun akhirnya bersatu dalam Keberadaan. Adalah sangat bijak Buddha Gautama pernah menjelaskan kepada murid-muridnya dalam satu kesempatan, bahwa dharma atau kebenaran yang telah ditemukan dan diajarkannya seperti segenggam daun yang bisa dikumpulkan oleh kedua tangannya, namun seluruh dharma dan kebenaran di jagat raya seperti daun-daun yang tumbuh di semua pohon di muka bumi.
Konsep Tuhan sebagai Pribadi yang menciptakan jagat raya beserta segala proses kehidupan yang terjadi di dalamnya, menunjukkan kesempurnaan Tuhan dalam menciptakan jagat raya yang terdiri dari banyak tata surya yang berisikan banyak planet yang berputar sesuai orbitnya tanpa bersinggungan satu sama lain. Jika gerakan salah satu planet keluar dari jalur lintasannya, maka seluruh alam semesta akan hancur lebur (SP hal.272).
Teori evolusi yang dikemukakan Charles Darwin selalu saja diperbantahkan dengan konsep penciptaan oleh Tuhan ini. Arai berusaha menggugurkan teori evolusi itu dengan proposal riset biologinya dengan perspektif religi secara Islami dan juga mengambil referensi dari pandangan kaum Kristen Victoria (SP hal.261), untuk mengoreksi kelemahannya. Saksi Jehovah dalam buku Pencarian dalam buku Pencarian Manusia Akan Allah yang diterbitkan WATCHTOWER BIBLE AND TRACT SOCIETY OF NEW YORK, INC. tahun 1991 dalam pasal 14 ayat 13-17 (perikop: Secara Kebetulan atau Dirancang?)
Secara Kebetulan atau Dirancang?
13 Jika tidak ada Pencipta, maka kehidupan pasti dimulai secara spontan dan kebetulan. Agar kehidupanini ada, sat-zat kimia yang tepat harus bersatu dalam jumlah yang tepat, pada suhu dan faktor-faktor pengendali lainnya, dan semuanya harus bertahan selama jangka waktu yang tepat. Selain itu, agar kehidupan dapat mulai dan terus berlangsung di bumi, peristiwa-peristiwa kebetulan ini harus diulangi ribuan kali. Akan tetapi, seberapa besar kemungkinan terjadinya bahkan satu peristiwa seperti ini?
14 Para penganut teori evolusi mengakui bahwa kemungkinan atom-atom dan molekul-molekul menyatu untuk membentuk satu molekul protein saja yang sederhana adalah 1 di antara 10 pangkat 113, atau 1 dengan 113 nol. Angka tersebut lebih besar daripada jumlah semua atom yang diperkirakan ada di alam semesta! Para ahli matematika menganggap segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan lebih kecil daripada 1 di antara 10 pangkat 50, mustahil terjadi. Akan tetapi, dibutuhkan jauh lebih banyak daripada hanya sebuah molekul protein sederhana untuk kehidupan. Kira-kira 2000 protein yang berbeda dibutuhkan oleh hanya sebuah sel untuk mempertahankan kegiatannya, dan kemungkinan bahwa semuanya itu terjadi secara acak adalah 1 banding 10 pangkat 40000!"Jika seseorang tidak mempunyai prasangka yang ditimbulkan oleh kepercayaan masyarakat atau oleh pendidikan ilmiah sehingga yakin bahwa kehidupan bermula [secara spontan] di Bumi, perhitungan sederhana ini menyingkirkan gagasan itu sama sekali," kata astronom Fred Hoyle.
15 Sebaliknya, dengan mempelajari dunia fisik, dari partikel-partikel yang lebih kecil daripada atom sampai galaksi-galaksi raksasa, para ilmuwan telah menemukan bahwa semua fenomena alam yang dikenal tampaknya mengikuti hukum-hukum dasar tertentu. Dengan kata lain, mereka telah menemukan kecerdasan dan ketertiban dalam segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, dan mereka dapat menuangkan kecerdasan dan ketertiban dalam segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, dan mereka dapat menuangkan kecerdasan dan ketertiban ini dalam istilah-istilah matematika yang sederhana. "Hanya sedikit ilmuwan yang tidak akan merasa kagum atas keindahan dan kesederhanaan hukum-hukum yang hampir tidak masuk akal ini," tulis seorang profesor fisika, Paul Davies, dalam majalah New Scientist.
16 Akan tetapi, suatu fakta yang paling menarik mengenai hukum-hukum ini adalah bahwa di dalamnya ada faktor-faktor tertentu yang nilai-nilainya harus benar-benar ditentukan dengan tepat agar alam semesta, yang kita kenal ini, terbentuk. Di antara faktor-faktor konstan yang mendasar ini terdapat unit muatan listrik pada proton, massa dari partikel-partikel dasar tertentu, dan konstanta gravitasi umum dari Newton, yang biasanya ditunjukkan dengan huruf G. Mengenai hal ini, profesor Davies melanjutkan:"Bahkan variasi-variasi paling kecil dalam nilai tadi akan secara drastis mengubah penampilan Alam Semesta. Sebagai contoh, Freeman Dyson memperlihatkan bahwa jika tenaga di antara inti-inti (proton dan neutron) lebih kuat beberapa persen saja, tidak akan ada hidrogen di alam semesta. Bintang-bintang seperti Matahari, belum lagi air, tidak mungkin ada. Kehidupan, paling tidak seperti yang kita kenal, tidak mungkin ada. Brandon Carter memperlihatkan bahwa perubahan-perubahan yang jauh lebih kecil dalam G akan mengubah semua bintang menjadi blue
giants [raksasa-raksasa biru] atau red dwarfs [benda-benda kerdil merah], dengan akibat yang sama-sama menakutkan bagi kehidupan." Jadi, Davies menyimpulkan:"Dalam hal ini masuk akal bahwa hanya mungkin ada satu Alam Semesta. Jika memang demikian, benar-benar suatu gagasan yang luar biasa bahwa keberadaan kita sendiri sebagai makhluk yang sadar tidak dapat tiada merupakan hasil dari kecerdasan." - Cetak miring red.
17 Apa yang dapat kita simpulkan dari semuanya ini? Pertama-tama, jika alam semesta diatur oleh hukum-hukum, maka harus ada pribadi pembuat hukum yang cerdas yang merumuskan atau menetapkan hukum tersebut. Selain itu, karena hukum-hukum yang mengatur bekerjanya alam semesta tampaknya dibuat agar ada kehidupan dan keadaan yang cocok untuk menunjang, ini jelas melibatkan maksud-tujuan. Rancangan dan maksud-tujuan ini bukan ciri-ciri peristiwa kebetulan; semuanya tepat seperti yang akan dilakukan oleh Pencipta yang cerdas. Dan itu selaras dengan apa yang dinyatakan Alkitab: "Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan." - Roma 1:19, 20; Yesaya 45:18; Yeremia 10:12
Namun para penganut agama Hindu dan Buddha tidak mempermasalahkan kontroversi itu, karena para pertapa, yogi, Buddha Gautama, dan murid-muridnya telah melihat realitas evolusi kehidupan manusia yang terjadi di bumi sejak puluhan ribu kehidupan lampau selama berkali-kali masa bumi ber-evolusi (terbentuk, hancur, terbentuk kembali, hancur lagi, terbentuk kembali, dan seterusnya) dengan kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi yang dilaksanakan dengan kewaspadaan, semangat, tekad, dan kesungguhan secara mendalam (Sutta Pitaka, Digha Nikaya I)
Fakta evolusi yang disaksikan Buddha dengan kemampuan batinnya berbeda dengan pendapat Darwin yang mendalilkan bahwa manusia berasal dari kera. Di Agganna Sutta Buddha melihat bahwa manusia-manusia di bumi semula berasal dari alam cahaya (alam surga), bentuknya adalah makhluk yang bercahaya, tidak ada perbedaan jenis kelamin, dan melayang-layang di angkasa, pada saat itu bumi telah terbentuk kembali, kondisinya masih berupa air dan gelap gulita (tidak ada matahari, bulan, bintang-bintang, konstelasi, perbedaan waktu siang dan malam). Evolusi (perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang amat lama) dimulai dengan munculnya tanah dengan sarinya, yang berupa seperti mentega yang rasanya manis seperti madu tawon murni. Lalu, makhluk-makhluk ini mulai mencicipinya, doyan, dan makan sari tanah itu, dan cahaya di badannya hilang, dan tampaklah matahari, bulan, bintang-bintang, konstelasi, dan terjadilah siang dan malam. Makhluk-makhluk ini terus makan sari tanah itu, dan tubuh mereka menjadi padat, dan kelihatan macam-macam bentuk badannya, ada yang indah, dan ada yang buruk. Mereka yang berbadan bagus memandang rendah mereka yang berbadan buruk. Maka sari tanah lenyap, muncullah tumbuhan dari tanah seperti cendawan, yang dikonsumsi para makhluk tadi. Para makhluk itu, yang tubuhnya indah semakin sombong dan congkak, maka tumbuhan tadi lenyap, digantikan tanaman menjalar yang bentuk dan rasanya seperti sari tanah tadi, dan dikonsumsi para makhluk itu. Akibat mengkonsumsi tanaman itu, para makhluk mendapatkan tubuh yang semakin padat, dan semakin kentara bedanya yang indah dan yang buruk rupa, dan yang bangga akan rupa indahnya menjadi sombong dan congkak. Maka tumbuhan menjalar itu hilang, digantikan tumbuhan padi yang masak di alam terbuka, harum baunya, bersih tanpa dedak dan sekam. Jika sore hari makhluk-makhluk itu mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, besoknya padi itu sudah tumbuh dan masak kembali. Padi-padi itu dikonsumsi mereka terus menerus, dan semakin padat tubuh mereka, dan mereka menjadi manusia seperti sekarang ini yang nyata perbedaan jenis kelaminnya, pria dan wanita. Kemudian wanita sangat memperhatikan pria, dan sebaliknya pria sangat memperhatikan wanita, situasi ini berlangsung terus menerus, maka nafsu timbul di antara mereka, dan mereka mulai melakukan hubungan seks. Untuk selanjutnya, manusia mengalami siklus kelahiran, tumbuh jadi dewasa, tua, sakit, dan mati, dan terlahir kembali sesuaiperuatan yang dilakukannya. Maka mereka bisa berubah menjadi dewa di alam-alam surga (termasuk alam cahaya asal makhluk-makhluk bercahaya tadi), makhluk halus atau pesakitan di alam-alam penderitaan, terlahir menjadi manusia kembali atau menjadi hewan, dan tentu mereka membawa rekaman kesadaran dari kehidupan-kehidupan masa lampaunya.
Paramhansa Yogananda, dalam bukunya Otobografi Seorang Yogi (yang dikisahkan kembali oleh Anand Khrisna, terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 1999) menjelaskan yang telah diterangkan oleh gurunya sendiri, Sri Yukteswar Giri, bahwa:
"Badan manusia tidak sepenuhnya hasil evolusi dari binatang. Ada intervensi Ilahi yang nyata sekali, yaitu otak manusia. Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa. Lewat otak dan sentra-sentra energi yang berkaitan dengan otak, sebenarnya manusia pertama tidak perlu berkembang biak lewat hubungan seks, sebagaimana yang dilakukan oleh binatang. Ia dapat 'menciptakan' anak, sebagaimana ia diciptakan, namun karena ia mulai mengaktifkan sentra seksnya, maka daya cipta yang ia miliki ditarik kembali dari dirinya. Kejadian ini yang digambarkan sebagai jatuhnya Adam dan Hawa." (hal.194-195)
Pemandu saya menjelaskan,"Ciptaan ini sebenarnya adalah buah pikiran – manifestasi sebuah pikiran Sang Pencipta. Dalam alam mimpi, kita pun bisa menciptakan begitu banyak hal. Dunia benda ini bagaikan sebuah mimpi – Impian Sang Pencipta."
"Alam Semesta ini hanyalah sebuah pikiran, sebuah ide yang dipikirkan oleh Sang Pencipta. Dengan suatu kecepatan tertentu, ide tersebut, pikiran tersebut berubah menjadi atom-atom energi. Sedemikian rupa, Ia menyusun atom-atom yang ada, sehingga terciptalah alam semesta. Atas Kehendak-Nya pula, molekul-molekul atom bergabung. Apabila Ia menarik kembali Kehendak-Nya, maka alam semesta ini akan kembali menjadi energi. Dan energi akan larut dalam kesadaran murni." (hal.380-381)
"Beliau juga pernah menjelaskan Samkhya – salah satu cabang filsafat India kuno. Kalimat "Tuhan tidak dapat dibuktikan" tidak berarti bahwa Tuhan itu tidak ada. Makna sebenarnya adalah mereka yang ingin membuktikan adanya Tuhan lewat panca indera tidak akan berhasil menemukan pembuktian apa pun, karena Tuhan tidak terjangkau oleh panca indera. Karena Ia adalah Kesadaran Murni, maka hanya dapat dialami dalam alam meditasi, di mana panca indera, bahkan pikiran pun terlampaui." (hal.193)
"Tuhan adalah "Kehidupan Tunggal", "Kesatuan Yang Sempurna". Yang membuat-Nya tidak terasa, tidak terlihat demikian, adalah hukum maya, Ilusi Kosmis. Setiap penemuan dalam bidang sains hanya membuktikan apa yang sudah pernah dinyatakan oleh pararishi jaman dahulu." (hal.315)
"Maya, berarti ilusi atau avidya – ketidaktahuan, kebodohan, ketololan, ketidaksadaran. Ketidaktahuan ini tidak bisa diatasi dengan analisis intelektual, tetapi hanya dengan suatu pengalaman pribadi, yaitu nirbikalpa Samadhi, meditasi." (hal.317)
Jadi, tanpa maksud keberpihakan kepada pendapat dari mana-mana, saya menarik kesimpulan bahwa pikiran kita sendiri tak akan pernah bisa memahami "Ketidakterbatasan" jikalau kita sendiri tidak memahami diri kita terlebih dahulu. Dengan eksistensi diri yang sadar, kita memahami apa yang sedang kita alami sekarang, apakah ada masalah-masalah yang wajib kita atasi, bagaimana mengatasinya, dan selanjutnya kita mampu menciptakan mimpi-mimpi kita sendiri yang merupakan rencana untuk menjalani hidup kita selaras dengan diri kita, dengan sesama, dengan alam, dengan Ketidak Terhinggaan………………………………..
Inilah daftar buku-buku referensi tulisan saya:
WATCH TOWER BIBLE AND TRACT AND SOCIETY OF PENNSYLVANIA. 1991. Pencarian Manusia Akan Allah (Mankind's Search for God). Brooklyn, New York: WATCHTOWER BIBLE AND TRACT SOCIETY OF NEW YORK, INC.
Sangha Theravada Indonesia dan Mapanbudhi. 1994. PARITTA SUCI. Jakarta: Yayasan Dhamadipa Arama.
Wowor, Cornelis. 1984. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam Agama Buddha. Jakarta: Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda.
Khrisna, Anand. 1999. PARAMHANSA YOGANANDA Otobografi Seorang Yogi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
de Mello,S.J, Anthony. 1998. AWARENESS Butir-Butir Mutiara Pencerahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.