Jumat, 14 November 2008

KETIONGHOAAN DALAM LASKAR PELANGI


 


 

Tionghoa dibahas di Laskar Pelangi sangat unik, karena melawan pendapat umum masyarakat tentang Tionghoa di Indonesia.

Tionghoa diceritakan sudah tinggal di Belitong sejak lama, diduga mereka datang pertama kali, ada bukti arkeologis seperti alat-alat pertambangan kuno, jadi mereka adalah pribumi. (LP hal.35) Pendapat umum yang dibentuk pemerintah di zaman Hindia Belanda & Orde Baru melabelkan Tionghoa sebagai non pribumi. Bahkan, Ikal menyatakan bahwa semua orang di sepanjang pesisir selat Malaka sampai Malaysia yang gemar akan irama musik & syair Melayu dianggap orang Melayu, tidak peduli dengan ciri-ciri fisiknya. (LP hal.162-163)

Tionghoa Belitong hidup dengan adat istiadat leluhur yang kuat,(LP hal.35) tetapi tidak hidup eksklusif & berbaur dengan semua etnis di Belitong, tidak seperti Tionghoa di daerah-daerah lain yang sudah luntur adat istiadatnya, bergaya hidup ala barat,& hidup eksklusif bagi yang kaya atau bagi kaum marginal hidup seperti orang kampung yang beradat lokal & berbaur dengan lingkungan sosialnya. Acara-acara keagamaan di kelenteng dibuka luas untuk umum,seperti ritual chiong si ku atau sembahyang rebut yang membakar patung kertas raksasa Thai Tse Ya atau raja hantu agar tidak ada sifat-sifat buruk & kesialan melanda di sepanjang tahun (LP hal.260),& diisi juga dengan hiburan seperi komidi putar, panjat pinang,& orkes Melayu.(LP hal.259) Bahkan, etnis-etnis lain selain Tionghoa boleh ikut mengambil barang-barang sumbangan umat Kong Hu Cu dalam ritual ini. (LP hal.259,262,264) Jadi, pendapat umum tentang adat & tradisi Tionghoa yang eksklusif yang diperkuat dengan pelarangannya di zaman Orde Baru untuk mengindonesiakan Tionghoa tidak masuk akal, sebab ritual chiong si ku ini memperkaya seni & budaya & mengandung pesan moral tentang sifat dasar manusia yang egois, tamak, merusak,& agresif. (LP hal.262) Ini hampir seperti tradisi Bali saat Nyepi atau tradisi Jawa saat Suro, yang membakar ogoh-ogoh setelah diarak keliling pemukiman warga. Ajaran Kong Hu Cu yang nyata dengan kejujuran, rendah hati,& kerja keras diapresiasi positif oleh Ikal yang muslim, (LP hal.35,202) & Islam juga mengajarkan hal yang sama. Kebiasaan Tionghoa membersihkan badan seperti mandi, memotong kuku,& merapikan rambut (LP hal.177) juga senada dengan pernyataan Islami: kebersihan adalah sebagian dari iman. Akiong dari keluarga Kong Hu Cu boleh bersekolah di SD Muhammadiyah yang Islami (LP hal.14,26), dia tekun belajar walaupun sakit (LP hal.254), jadi pemerintah di zaman Orde Baru sangat konyol melarang agama Kong Hu Cu tumbuh di Indonesia.

Kesenjangan ekonomi yang biasa ditonjolkan di media massa & pendapat umum antara Tionghoa yang lebih kaya dibanding etnis-etnis lain di Indonesia tidak dominan lagi. Di dalam komunitas Tionghoa sendiri tidak semuanya kaya, keluarga Akiong termasuk golongan terbawah dikenal sebagai Tioghoa kebun (LP hal.26) yang bekerja menggarap sebidang kebun sawi, begitu miskinnya sehingga menyekolahkan Akiong di SD Muhammadiyah (LP hal.68) yang tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun,& menerima sumbangan sukarela dari orangtua murid (LP hal.4) & sumbangan umat muslim. (LP hal.251) Dalam kondisi demikian,sekolah ini dipercaya A Miauw, pemilik toko Sinar Harapan mendapat utang kapur tulis yang dibayar bulanan oleh Pak Harfan, kepala sekolahnya. (LP hal.206)

Dalam etnis Tionghoa yang bermacam-macam suku, tidak banyak orang Indonesia yang tahu. Ikal memahaminya, dia bisa mengenal suku Hokkian, Kek, Tongsan, karena dia pasti sering berinteraksi dengan Tionghoa. Jumlah Tionghoa yang tinggal di kampungnya lumayan banyak, 1/3 dari jumlah penduduk, (LP hal.35) tidak seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia jumlah Tionghoanya lebih sedikit dan menjadi minoritas dalam masyarakatnya.

Interaksi antara Tionghoa dan etnis-etnis lainnya di Belitong sangat unik, seperti transaksi bisnis 3 bahasa yang berlangsung lancar. Fenomena ini oleh sebagian orang dianggap rekayasa Tionghoa demi keuntungannya sendiri, padahal itu terjadi karena perbedaan budaya tiap etnis.(LP hal.202) Ikal menilai Tionghoa yang ditemuinya dengan baik & manusiawi dengan pemikiran-pemikiran kocaknya yang imajinatif, usil,& apresiatif sesuai dengan budaya Tionghoa yang dipahaminya tentang hoki & bisnis.(LP hal. 202-203) Ikal mengungkapkan fenomena etos kerja & disiplin Tionghoa yang menjadikannya sukses dalam finansial,& mengkritik orang Melayu yang jelek mengatur finansialnya,(LP hal. 202) & lebih jelek dalam kepemimpinan & organisasi, suka debat kusir & menjatuhkan sesamanya sendiri, (LP hal.264) & amat jelek dalam mengatur tata kota, sehingga pasar semrawut & bau busuk,(LP hal.199-200) namun Tionghoa bisa hidup & bekerja dalam lingkungan pasar kumuh itu karena letaknya yang strategis secara bisnis.(LP hal.200) Kenyataan ini bisa menjadi bahan perbaikan fisik & mental masyarakat umum yang mau maju ke depan bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Kehidupan budaya antar etnis yang berbeda di zaman Ikal yang masih kecil belum terpengaruh globalisasi, jadi hubungan antar etnis hingga pernikahannya adalah tabu,(LP hal.251,253) namun Ikal yang tulus mencintai A Ling bisa mengalaminya dengan bekerja sama dengan Akiong. Tiga orang ini tidak mau terperangkap pandangan picik dari kaumnya sendiri, & hubungan ini berefek konstruktif terutama pada Ikal, perkembangan mentalnya jadi signifikan & tidak down terus saat dia harus berpisah dengan A Ling. A Miauw, ayah A Ling, ternyata cukup apresiatif dengan Ikal & anaknya,& mau memberikan hadiah perpisahan mereka pada Ikal, diary & buku cerita karya Herriot yang jadi inspirasi dinamika hidupnya di masa depan.(LP hal.297-298) Ini mengurangi sentimen negatif hubungan antar ras yang disangka sebagian orang didorong motif ekonomi, perbaikan status,& tipu daya demi keuntungan pribadi.

Akiong menjadi muslim & berganti nama Nur Zaman, bukan berarti Akiong mengkhianati kaumnya sendiri, dia menemukan kecocokan pribadinya dengan Islam yang sudah dikenalnya waktu sekolah dulu setelah mengalami proses panjang dalam kehidupan religiusnya.(LP hal.464-465) Tekanan Orde Baru yang menghambat Kong Hu Cu & pengaruh budaya barat mengakibatkan ajaran asli Kong Hu Cu kian susah dipahami, akibatnya banyak Tionghoa ramai-ramai berpindah agama, umumnya ke agama Nasrani yang bebas dari ritual doa yang ribet, tidak melarang mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram secara syariat Islam, sehingga selanjutnya masyarakat cenderung menganggap Tionghoa beragama Nasrani. Karena kepicikan turun temurun yang direkayasa penjajah Hindia Belanda dalam politik memecah belahnya, banyak Tionghoa yang pasti sinis & menghina Akiong, apalagi dia juga cinta dengan Sahara yang Melayu. Padahal itu terjadi alami, sejak dia sekolah berinteraksi dengannya, & setelah belasan tahun akhirnya bisa menyatakannya langsung kepadanya & ortunya untuk menikahinya. Akhirnya mereka menikah, punya anak,& Akiong membuka toko kelontong di samping toko pamannya, A Miauw.(hal 465-466,455-456) Fenomena Akiong ini bukan berarti Tionghoa sebaiknya menjadi muslim, melainkan tiap manusia perlu proses untuk memahami dirinya sendiri dengan seksama & tulus, mencari & mendapatkan pegangan hidup spiritual yang cocok dengan mindsetnya amat penting daripada hanya menjadi makhluk ekonomi sejati atau pengejar cinta buta yang rela berganti agama demi mendapat gadis pujaan, atau makhluk hedonis yang gemar mencari wanita-wanita simpanan. Keputusan Akiong yang menjadi muslim dengan tulus, hendaknya jadi acuan bagi seluruh Tionghoa di negeri ini yang kadang-kadang menggunakan label-label agama tertentu dengan fanatik atau sebagai kedok untuk meraih keuntungan finansial semata & menyamarkan identitas aslinya demi kemudahan fasilitas politik & bisnis.

Tidak ada komentar:

 

ShoutMix chat widget